ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
BERITAKARAWANG.ID – Jakarta, sebagai ibu kota Indonesia, terus berjuang untuk mengatasi masalah polusi udara yang semakin parah. Studi terbaru dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan bahwa meskipun Jakarta berhasil mengurangi emisi hingga nol, tantangan besar tetap ada. Polusi udara yang mencemari Jakarta sebagian besar berasal dari daerah sekitarnya, yaitu wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (KK PUL-FTSL) ITB ini menunjukkan bahwa kontribusi dari daerah luar Jakarta terhadap kualitas udara di ibu kota sangat signifikan. Dalam laporan tersebut, penggunaan dua model dispersi pencemar udara, AERMOD dan WRF-Chem, memungkinkan para peneliti untuk memprediksi dampak emisi dari wilayah lain terhadap konsentrasi partikel halus PM2.5 di Jakarta.
Emisi Lintas Wilayah dan Dampaknya
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahkan jika Jakarta menekan emisi hingga nol, ibu kota tetap akan menerima polutan dari daerah sekitarnya. Data menunjukkan bahwa kiriman emisi lintas wilayah ini berkontribusi antara 26 hingga 54 persen dari total konsentrasi PM2.5 di Jakarta, dengan rata-rata kontribusi mencapai 38,51 persen.
Puji Lestari, pemimpin tim penelitian, menekankan bahwa batas administrasi tidak dapat membatasi penyebaran polusi udara. “Jika Jakarta tidak memproduksi emisi, tetap ada pengaruh dari pencemar udara yang datang dari luar,” ujarnya saat mempresentasikan hasil studi tersebut kepada media.
Peran Kerja Sama Antar Daerah
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan bahwa upaya yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta tidak dapat dilakukan secara terpisah. Ia menekankan pentingnya kerja sama dengan daerah lain di Jabodetabek. Menurutnya, langkah-langkah yang diambil dalam mengurangi polusi udara tidak akan cukup selama industri dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batubara di daerah penyangga masih beroperasi.
“Koordinasi antar daerah sangat penting, terutama bagi daerah yang masih mengizinkan penggunaan bahan bakar batu bara oleh industri,” ungkap Pramono. Ia mencatat bahwa keberadaan PLTU Suralaya di Banten merupakan salah satu sumber utama polusi udara di Jakarta.
Pramono juga menambahkan bahwa meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya seperti mendorong penggunaan mobil listrik dan meningkatkan transportasi umum, masalah polusi udara tidak akan teratasi jika lingkungan sekitar Jakarta masih mengizinkan praktik industri yang merugikan.
Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Bersih
Dengan tantangan yang ada, Pramono berharap pemerintah pusat dapat lebih terlibat dalam koordinasi untuk mengatasi masalah polusi udara yang melanda Jakarta. “Diperlukan kolaborasi untuk mengatur emisi yang berasal dari sumber-sumber di luar Jakarta agar kualitas udara dapat ditingkatkan,” harapnya.
Dengan adanya upaya bersama dan kesadaran akan pentingnya lingkungan yang bersih, Jakarta dapat bergerak menuju masa depan yang lebih baik dan bebas dari polusi udara. Namun, kerja sama antar daerah dan strategi pengelolaan yang tepat menjadi kunci dalam mencapai tujuan tersebut.







