ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
BERITAKARAWANG.ID – BPI Danantara Indonesia kini terjebak dalam kesulitan yang serius dalam proses restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya. Menurut penjelasan Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, berbagai masalah yang dihadapi perusahaan-perusahaan pelat merah ini sangat kompleks.
Penyebab Utama Kesulitan Restrukturisasi BUMN Karya
Dony Oskaria menyatakan bahwa tantangan utama yang dihadapi terletak pada utang yang menumpuk. Hal ini diperparah dengan banyaknya anak perusahaan yang terlibat, di mana satu BUMN Karya dapat memiliki puluhan anak perusahaan, bahkan cucu perusahaan yang juga bermasalah. “Liabilitas yang ada saat ini sangat besar, dengan utang yang juga tidak kalah besar,” ungkap Dony dalam pernyataannya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Proses Penyelesaian yang Memakan Waktu
Oleh karena itu, Danantara harus menyelesaikan masalah ini satu per satu. Proses ini menjadi sangat lambat mengingat total utang BUMN Karya diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah. Dony menegaskan pentingnya melakukan restrukturisasi dengan hati-hati, mengingat dampaknya terhadap ekosistem secara keseluruhan.
“Jika kami ingin mengambil langkah cepat, bisa saja kami melakukan merger, memailitkan perusahaan, dan langkah-langkah lainnya. Namun, kami lebih memilih untuk mempertimbangkan semua pihak yang terdampak,” jelasnya.
Dinamika dan Permasalahan yang Rumit
Dony juga menyoroti bahwa dinamika yang terjadi di dalam BUMN Karya sangat beragam. Ia memberikan contoh kasus LRT City yang dikembangkan oleh PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) dan tantangan yang dihadapi oleh WIKA Realty. Kesulitan ini menunjukkan betapa rumitnya situasi yang harus dihadapi oleh Danantara dan BUMN Karya lainnya.
Rencana Ke Depan untuk Penyehatan
Dony berkomitmen untuk melakukan proses penyehatan yang fundamental dan riil. Ia menekankan bahwa perusahaan tidak boleh hanya terlihat sehat di permukaan, tetapi harus benar-benar dalam kondisi baik. “Risiko yang ada harus kami kaji secara mendalam. Delisting dari bursa saham adalah bagian dari proses transformasi yang harus kami hadapi,” ujarnya.
Menurut Dony, jika sebuah perusahaan tidak dalam kondisi yang baik tetapi dipaksakan untuk melantai di bursa, hal tersebut akan merugikan para investor di kemudian hari. Oleh karena itu, Danantara bertekad untuk menyelesaikan masalah ini secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Saat ini, Danantara masih berupaya untuk menemukan solusi terbaik bagi permasalahan yang ada. Meskipun prosesnya lambat, Dony berharap masyarakat dapat memahami bahwa masalah yang dihadapi sudah berlangsung lama dan harus diselesaikan dengan hati-hati.







