BERITAKARAWANG.ID – Tim SAR Gabungan melakukan tindakan darurat untuk evakuasi medis dan penyisiran di beberapa lokasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terkena dampak gempa susulan pada Kamis (20/8/2026). Fokus operasi ini di empat kabupaten, yaitu Manggarai Timur, Manggarai, Ngada, dan Nagekeo.
Evakuasi dimulai sejak pagi hari dan ditujukan terutama untuk kelompok rentan, termasuk lanjut usia dan ibu hamil, yang mengalami trauma akibat guncangan gempa berkekuatan 6,0 magnitudo.
Warga yang membutuhkan perlindungan telah dievakuasi ke lokasi yang lebih aman. Salah satunya, seorang lansia dipindahkan dari Posko Mandiri di Ronting, Manggarai Timur, ke Posko Polisi untuk mendapatkan perlindungan dan pemantauan lebih lanjut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, seorang ibu hamil juga dievakuasi menuju Posko Kesehatan Kementerian Kesehatan di Damer, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, untuk mendapatkan penanganan medis yang lebih tepat.
Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, menegaskan bahwa semua unsur SAR di lapangan tetap dalam keadaan siaga untuk merespons perkembangan situasi pascagempa.
“Operasi SAR terus kami fokuskan pada penyisiran di wilayah terdampak, pendataan serta pemantauan kondisi masyarakat bersama BPBD dan pemerintah daerah, dan memastikan kesiapan evakuasi medis bagi warga yang membutuhkan,” kata Yudhi dalam keterangan tertulis, Kamis (20/8).
Dua Gempa Susulan Mengguncang NTT
Operasi evakuasi berlangsung di tengah serangkaian gempa susulan yang mengguncang NTT sepanjang Kamis pagi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat dua gempa tektonik yang cukup besar.
Gempa pertama terjadi pada pukul 05.45 WIB dengan magnitudo 5,8 pada kedalaman 10 km. Episenter gempa berada di darat pada koordinat 8,35° LS dan 120,63° BT, sekitar 34 km timur laut Ruteng, Manggarai.
Gempa ini termasuk dalam kategori gempa dangkal yang diakibatkan oleh aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme pergerakan turun (normal fault). Guncangannya dirasakan dengan skala V-VI MMI di Kabupaten Manggarai, IV MMI di Nagekeo, dan III-IV MMI di Manggarai Barat serta Sikka.
Gempa kedua terjadi pada pukul 09.47 WIB dengan magnitudo 5,7 pada kedalaman yang sama, yaitu 10 km. Episenternya terletak 36 km timur laut Ruteng, di koordinat 8,33° LS dan 120,64° BT. Berbeda dengan gempa pertama, mekanisme sumber gempa ini menunjukkan pergerakan turun geser (normal-oblique).
Guncangan kedua dirasakan dengan skala V-VI MMI di Manggarai, V MMI di Nagekeo dan Ende, serta III-IV MMI di Manggarai Barat, Sumba Timur, dan Sikka.
BMKG memastikan bahwa kedua gempa tersebut tidak berpotensi menyebabkan tsunami. Keduanya merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan setelah gempa utama berkekuatan 7,7 yang mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 05.58 WIB.
Hingga pukul 08.00 WIB pagi, BMKG mencatat sebanyak 3.489 aktivitas gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2 setelah kejadian gempa besar pekan lalu.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ia juga meminta publik hanya mengacu pada informasi resmi yang disampaikan melalui kanal terverifikasi oleh BMKG.
FAQ
Apa penyebab gempa di NTT baru-baru ini?
Gempa di NTT disebabkan oleh aktivitas tektonik di Flores Back-Arc Thrust.
Bagaimana keadaan masyarakat pasca gempa?
Masyarakat pasca gempa mengalami trauma, terutama kelompok rentan seperti lanjut usia dan ibu hamil.
Apa yang dilakukan pemerintah untuk menangani situasi ini?
Pemerintah, melalui tim SAR dan BPBD, melakukan evakuasi dan penanganan medis bagi korban.
Apakah gempa ini berpotensi tsunami?
BMKG memastikan bahwa kedua gempa tersebut tidak berpotensi menyebabkan tsunami.
Berapa banyak gempa susulan yang terjadi di NTT?
Hingga pukul 08.00 WIB pagi, BMKG mencatat sebanyak 3.489 aktivitas gempa susulan di NTT.





