ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
BERITAKARAWANG.ID – Pemerintah Indonesia mengintensifkan sejumlah kebijakan prioritas yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto. Langkah ini diambil untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian yang masih melanda perekonomian global.
Upaya ini mencakup penguatan sektor-sektor strategis, seperti peningkatan nilai tambah sumber daya alam, transformasi kelembagaan dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta pengembangan investasi dan sumber pertumbuhan baru.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga melalui penguatan fundamental ekonomi dan percepatan kebijakan. “Kami mengarahkan berbagai langkah untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat investasi, serta menciptakan sumber pertumbuhan baru yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas,” ucap Haryo.
Menurutnya, kebijakan ini menjadi semakin penting mengingat prospek ekonomi global yang masih dibayangi oleh risiko-risiko geopolitik, energi, perdagangan, dan pembiayaan.
Namun, kondisi perekonomian domestik masih menunjukkan kinerja yang positif. Pada Semester I tahun 2026, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,45% dengan inflasi yang terjaga di level 2,88%. Realisasi investasi juga mencapai Rp1.010,6 triliun, mengalami pertumbuhan 7,2% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemerintah juga aktif mempercepat hilirisasi dan penguatan rantai pasok nasional. Hingga tahun 2026, telah dilakukan groundbreaking untuk 26 proyek hilirisasi, termasuk pengolahan batu bara menjadi DME (Dimethyl Ether), hilirisasi tembaga dan emas, serta pengolahan limbah menjadi energi. Proyek-proyek ini diharapkan dapat menciptakan puluhan ribu lapangan kerja baru dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Pengelolaan sumber daya alam juga ditingkatkan melalui pengembangan Bank Emas dan optimalisasi pengelolaan devisa hasil ekspor. Bank Emas yang dikelola oleh Pegadaian dan BSI (Bank Syariah Indonesia) saat ini mengelola 153 ton emas dengan nilai sekitar Rp360 triliun atau sekitar USD20 miliar.
Di sisi lain, PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) telah berhasil mengelola Devisa Hasil Ekspor (DHE) sebesar USD14 miliar dari tiga komoditas strategis dalam kurun waktu dua bulan 13 hari. DSI juga memonitor lebih dari 6.500 transaksi ekspor untuk memperkuat tata kelola dan mencegah praktik under invoicing maupun transfer pricing.
Dalam aspek kelembagaan, transformasi BUMN terus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Dari total 1.074 BUMN, termasuk anak dan cucu usaha, sebanyak 290 BUMN telah ditutup. Pemerintah menargetkan jumlah BUMN maksimal menjadi 300.
Tentunya, langkah ini diiringi dengan peningkatan laba BUMN yang meningkat dari Rp186 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp326 triliun pada tahun 2025, atau tumbuh sebesar 75,3%.
Melangkah ke tahun 2027, pemerintah juga menyiapkan berbagai transformasi sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kapasitas produksi, produktivitas, daya saing, dan kesejahteraan masyarakat. Sepuluh transformasi besar yang direncanakan mencakup renovasi 10.000 Puskesmas, pembangunan dan revitalisasi 441 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), serta pengembangan 100 GW energi surya.
Keseluruhan agenda tersebut ditujukan untuk memperkuat mesin pertumbuhan ekonomi melalui transformasi sisi penawaran, peningkatan sektor bernilai tambah tinggi, serta revitalisasi sektor ekonomi yang lebih resilien. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, mencapai 8%, didukung oleh investasi, industri, dan produktivitas, sekaligus memastikan pertumbuhan yang inklusif dan penciptaan lapangan kerja.
“Berbagai agenda transformasi yang disiapkan untuk tahun 2027 merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam membangun sumber pertumbuhan baru yang lebih produktif dan berkelanjutan. Dengan penguatan sektor strategis dan peningkatan daya saing, pemerintah ingin memastikan pertumbuhan ekonomi semakin tinggi dan inklusif,” tutup Haryo.







