ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
BERITAKARAWANG.ID – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan klarifikasi terkait polemik yang berkembang di masyarakat mengenai kategori desil yang dianggap tidak mencerminkan kondisi ekonomi nyata. Dalam penjelasannya, Airlangga menegaskan bahwa penentuan desil didasarkan pada data yang diperoleh melalui sensus.
Pemahaman tentang Desil dalam Konteks Ekonomi
Desil adalah pengelompokan kesejahteraan keluarga yang diukur berdasarkan berbagai variabel sosial ekonomi. Menurut informasi dari laman resmi Cek Bansos Kementerian Sosial, desil mencakup berbagai aspek seperti pekerjaan, pendidikan, kondisi perumahan, daya listrik, dan kepemilikan aset.
Basis Data untuk Penentuan Desil
Airlangga menjelaskan bahwa penentuan desil tersebut menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), yang memungkinkan pengumpulan data secara menyeluruh mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat. “Desil itu basisnya sensus ekonomi. Jadi, sudah ada DTSEN,” ujarnya dalam sebuah acara di AYANA Midplaza, Jakarta Pusat.
Walaupun demikian, Airlangga tidak merinci lebih jauh mengenai kriteria spesifik yang digunakan, seperti apakah penentuan desil merujuk pada pengeluaran atau kepemilikan aset. Dia hanya memastikan bahwa seluruh indikator ekonomi dihimpun melalui metode survei yang sistematis.
Respon Publik terhadap Kategori Desil
Polemik mengenai desil ini memicu reaksi dari masyarakat. Banyak warga yang terkejut saat mengecek status desil mereka secara mandiri melalui website dtsen-form.bps.go.id dengan memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK). Beberapa di antara mereka merasa kategori desil yang mereka terima tidak sesuai dengan kondisi finansial yang sebenarnya.
Contoh Kasus dari Masyarakat
Salah satu contoh datang dari Fitri, seorang ibu rumah tangga di Bekasi, Jawa Barat, yang mengungkapkan kekecewaannya setelah ditempatkan dalam desil 10, kategori dengan tingkat kesejahteraan tertinggi. Padahal, menurutnya, kondisi ekonomi keluarganya tidak mencerminkan kategori tersebut. Suaminya hanya memiliki bisnis kecil dengan penghasilan terbatas.
“Cuma punya motor, rumah juga menumpang ke orang tua, tahu-tahu desil 10,” keluhnya, menandakan ketidakpuasan yang dirasakan banyak orang.
Pentingnya Akurasi Data Ekonomi
Dalam konteks ini, penting untuk memahami bahwa akurasi data ekonomi sangat vital untuk perencanaan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah. Ketidakcocokan data dengan situasi nyata dapat menimbulkan kesalahpahaman dan ketidakpuasan di kalangan masyarakat.
Harapan ke Depan
Ke depan, diharapkan pemerintah dapat melakukan evaluasi terhadap sistem pengumpulan dan pengolahan data, sehingga kategori desil dapat lebih akurat dan mencerminkan kondisi masyarakat yang sebenarnya. Ini juga penting untuk memastikan bahwa bantuan sosial dan program-program pemerintah dapat tepat sasaran.
Sebagai penutup, Airlangga Hartarto menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam memberikan umpan balik untuk perbaikan sistem. Dengan data yang akurat dan transparansi yang lebih baik, diharapkan kondisi ekonomi masyarakat dapat lebih terwakili dengan baik.







