ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
BERITAKARAWANG.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru saja mengumumkan rencana operasi ekonomi besar-besaran yang bertujuan untuk mengisolasi Iran. Langkah ini diambil di tengah ketegangan yang terus meningkat antara kedua negara, terutama setelah enam bulan terjadinya konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Langkah Ekonomi yang Menghancurkan
Dalam pernyataannya yang disampaikan melalui platform media sosialnya, Truth Social, Trump menyebutkan bahwa operasi ini akan menjadi yang paling menghancurkan yang pernah diterapkan terhadap negara mana pun. “Hari ini saya mengumumkan operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah diterapkan terhadap negara mana pun! Ini akan menjadi perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ungkapnya pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Ancaman Terhadap Negara Pendukung Iran
Operasi ekonomi ini akan menargetkan negara-negara yang memberikan dukungan atau melakukan bisnis dengan Iran. Trump menegaskan bahwa negara-negara tersebut akan menghadapi hukuman ekonomi yang sangat berat jika mereka tidak menghentikan hubungan mereka dengan Teheran. “Saya juga mengumumkan bahwa setiap negara yang mengizinkan lembaga keuangan, perusahaan, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan bantuan dalam bentuk apa pun kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang luar biasa berat,” jelasnya.
Reaksi Terhadap Pengumuman
Belum ada rincian spesifik mengenai sanksi atau hukuman yang akan dikenakan terhadap negara-negara yang melanggar kebijakan tersebut. Namun, pengumuman ini muncul hampir seminggu setelah Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa Washington akan memberlakukan isolasi ekonomi terhadap Iran.
Situasi di Selat Hormuz
Sementara itu, meskipun serangan saling serang antara AS dan Iran baru-baru ini menunjukkan penurunan, Iran masih menjaga blokade efektif terhadap pelayaran di Selat Hormuz. Blokade ini terjadi setelah gagal tercapainya kesepakatan sementara antara AS dan Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Dialog yang Terhenti
Dalam beberapa hari terakhir, kedua pihak diketahui masih saling bertukar pesan. Namun, pada Selasa lalu, Trump menegaskan bahwa pembicaraan telah dihentikan, dan ia mengisyaratkan bahwa Selat Hormuz dapat menjadi “wilayah baru AS” dalam konteks ketegangan yang ada.
Kesimpulan
Langkah agresif yang diambil oleh Trump dalam mengumumkan operasi ekonomi ini menunjukkan ketegangan yang semakin memuncak dan bisa berpotensi memperburuk situasi di Timur Tengah. Para pengamat internasional memperhatikan dengan seksama bagaimana langkah ini akan direspons oleh Iran dan negara-negara lainnya yang terlibat.








