Studi ITB Ungkap Sumber Utama Polusi Udara Jakarta: Transportasi Mendominasi

- Penulis Berita

Kamis, 20 Agustus 2026 - 13:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Studi ITB Ungkap Sumber Utama Polusi Udara Jakarta: Transportasi Mendominasi 1
Studi ITB Ungkap Sumber Utama Polusi Udara Jakarta: Transportasi Mendominasi 2
Studi ITB Ungkap Sumber Utama Polusi Udara Jakarta: Transportasi Mendominasi 3



ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

BERITAKARAWANG.ID – Penelitian terbaru dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan bahwa sektor transportasi merupakan penyumbang utama polusi udara di DKI Jakarta. Temuan ini berasal dari studi bertajuk Source Apportionment PM2.5 di Jakarta yang dilakukan oleh tim peneliti dari Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (KK PUL-FTSL) ITB, yang dipimpin oleh Prof. Ir. Puji Lestari, Ph.D. Penelitian ini juga didukung oleh Yayasan Visi Indonesia Raya Emisi Nol Bersih (ViriyaENB).

Kontribusi Sektor Transportasi terhadap Polusi Udara

Menurut Prof. Puji, hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor transportasi memiliki kontribusi emisi tertinggi, diikuti oleh sektor industri, pembakaran sampah, dan aktivitas konstruksi. “Jakarta jelas paling tinggi adalah sektor transportasi, kemudian baru diikuti industri, pembakaran sampah, baru konstruksi,” ungkapnya dalam pemaparan hasil studi di Jakarta Selatan.

Data lebih lanjut menunjukkan bahwa tiga kontributor utama polusi PM2.5 di Jakarta secara berurutan adalah kendaraan bermesin diesel (32,4 persen), kendaraan berbahan bakar bensin (26,9 persen), dan polutan secondary sulfate (20,3 persen). Ketiga sumber ini berkontribusi besar terhadap masalah polusi, dengan total kontribusi gabungan mencapai 79,6 persen.

Pemahaman tentang PM2.5 dan Dampaknya

Particulate matter (PM), khususnya PM2.5, menjadi salah satu polutan paling berbahaya di DKI Jakarta. Partikulat ini terdiri dari campuran partikel padat dan droplet cair yang tersuspensi di udara. Ukurannya yang kecil (kurang dari 2,5 mikrometer) memungkinkan PM2.5 untuk menembus saluran pernapasan dalam, yang dapat memicu berbagai masalah kesehatan seperti asma, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dan bahkan kanker paru-paru.

Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa tingginya konsentrasi PM2.5 di Jakarta tidak hanya disebabkan oleh aktivitas lokal, tetapi juga dipengaruhi oleh sumber polusi dari daerah sekitar yang berpotensi menambah beban pencemaran udara di ibu kota.

Rekomendasi untuk Mengatasi Polusi Udara

Tim peneliti ITB memberikan sejumlah rekomendasi guna mengatasi masalah kualitas udara di Jakarta. Beberapa di antaranya adalah:

  • Menerapkan standar bahan bakar yang lebih ketat.
  • Mempercepat adopsi kendaraan rendah emisi berstandar Euro IV dan kendaraan listrik.
  • Mewajibkan penggunaan perangkat penyaring pada truk dan bus.
  • Meningkatkan kepatuhan terhadap syarat uji emisi.
  • Meremajakan armada kendaraan.
  • Memperluas akses integrasi transportasi publik.

Koordinasi Antara Pemerintah DKI dan Pusat

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah daerah tidak akan sepenuhnya menyelesaikan masalah polusi udara selama industri dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batubara masih beroperasi di daerah penyangga. “Persoalan utamanya adalah bagaimana koordinasi di aglomerasi Jakarta ini, terutama bagi daerah-daerah yang masih mengizinkan industrinya menggunakan bahan bakar batu bara,” ujarnya.

Pramono menyatakan bahwa jika penggunaan batubara di industri dan PLTU tidak dihentikan, upaya penanggulangan polusi udara di Jakarta akan sia-sia. Ia berharap pemerintah pusat dapat berperan aktif dalam koordinasi untuk mengatasi masalah kualitas udara di Jakarta.

Kesimpulan

Studi yang dilakukan oleh ITB memberikan gambaran jelas tentang tantangan yang dihadapi DKI Jakarta dalam mengelola polusi udara. Dengan sektor transportasi sebagai penyumbang utama, penting bagi pemerintah untuk menerapkan langkah-langkah strategis dan berkolaborasi dengan daerah sekitar guna menciptakan udara yang lebih bersih bagi masyarakat.

Berita Terkait

Menhub Tegaskan Pencabutan Izin Rute bagi Operator Kapal yang Manipulasi Data Manifest
IHSG Diprediksi Melanjutkan Tren Positif Hari Ini, Berikut Analisisnya
Danantara Menghadapi Tantangan Besar dalam Restrukturisasi BUMN Karya
Anggaran Subsidi Energi untuk 2027 Naik 20% Menjadi Rp272,94 Triliun
BERITAKARAWANG.ID – Prabowo Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen: Investasi dan Ekspor Jadi Kunci Utama
FWD Insurance Syariah Resmi Dapatkan Izin Usaha dari OJK
Pemerintah Siapkan Anggaran Rp32,9 Triliun untuk Sekolah Rakyat dalam RAPBN 2027
Kementerian Pertanian Targetkan Swasembada Gula Konsumsi pada 2026
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:22 WIB

AS Gandakan Program Buyback Obligasi, Purbaya: Indonesia Jadi Contoh

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:22 WIB

Fitur Unggulan Omoda O4: Mobil Listrik AI Terjangkau dengan Jarak Tempuh Jauh

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:21 WIB

Purbaya Yudhi Sadewa: Dana Rp44 Miliar untuk Bencana NTT Sudah Ditransfer Sejak Awal Agustus

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:21 WIB

Demon Hunter Ajukan Gugatan Terhadap Netflix Terkait Film Kpop Demon Hunters

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:21 WIB

Indonesia Coffee Expo 2026: Pameran Kopi Terbesar di Jakarta Akan Datang

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:20 WIB

Tragedi Kecelakaan di Jalan Ness: Mobil Tergelincir Masuk Jurang, Satu Tewas

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:20 WIB

Cuaca Panas Ekstrem Mengancam Kualitas Obat dan Vaksin: Pentingnya Rantai Dingin

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:20 WIB

Korea Utara Luncurkan 10 Rudal Balistik Jarak Pendek, Tindakan Provokatif di Tengah Ketegangan Global

Berita Terbaru