Krisis Air Bersih Pasca Gempa NTT: Warga Golo Lanak Berjuang untuk Bertahan

- Penulis Berita

Kamis, 20 Agustus 2026 - 23:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BERITAKARAWANG.ID – Gempa bumi berkekuatan 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026, telah menimbulkan dampak yang sangat serius, terutama krisis air bersih di Desa Golo Lanak, Cibal Barat, Manggarai. Keadaan ini menjadi semakin memprihatinkan karena warga harus berjuang keras untuk mendapatkan kebutuhan dasar mereka.

Efridus Jerahi, salah satu penduduk desa, mengungkapkan betapa sulitnya hidup tanpa akses air yang memadai. Sebelum terjadinya gempa, desa ini sudah mengalami krisis air, di mana warga harus menempuh jarak sekitar lima kilometer menuju Desa Latung untuk mendapatkan air dari mata air yang melimpah.

Kendala Perjalanan untuk Mendapatkan Air

“Sumber air di Desa Golo Lanak tidak ada, jadi kami harus mengambil air dari desa lain yang jaraknya cukup jauh,” ungkap Efridus saat ditemui. Perjalanan menuju sumber air tersebut bukanlah hal yang mudah, karena jalan yang rusak dan tanjakan yang terjal menguras waktu dan tenaga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan adanya gempa, banyak warga yang kini trauma untuk mendekati area mata air. Di posko pengungsian, kebutuhan air mencapai 100 liter per hari hanya untuk memasak dan mencuci piring, belum termasuk kebutuhan mandi dan sanitasi. Jika mereka ingin mandi, sebagian warga harus merogoh kocek pribadi untuk mendapatkan air bersih.

Bantuan Minim dan Ketergantungan pada Dana Pribadi

Bantuan dari pemerintah yang minim memaksa warga untuk mengandalkan dana pribadi. Satu tandon air berkapasitas besar dihargai sekitar Rp150 ribu, dan kualitas air tersebut belum sepenuhnya memenuhi standar, seringkali meninggalkan kerak putih di dasar periuk setelah dimasak.

“Ada kalanya air yang kami masak meninggalkan kerak, itu tanda kualitas airnya kurang baik,” kata Efridus. Dalam situasi darurat ini, warga terpaksa mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk untuk urusan buang air di malam hari jika stok air di toilet habis.

Kelompok Rentan Terancam

Krisis air ini menjadi sangat mendesak terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak. Kehadiran bantuan dari lembaga kemanusiaan, seperti pasokan air kemasan dan pengiriman tandon air, menjadi harapan yang sangat berarti bagi warga.

Tanpa rencana jangka panjang dari pemerintah, warga Golo Lanak terancam terus menerus menguras tabungan pribadi demi mendapatkan air bersih. Efridus berharap pemerintah bisa menyediakan armada kendaraan tangki air untuk rutin menyuplai kebutuhan mereka, karena air bersih kini bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan penentu kelangsungan hidup.

Pentingnya Hemat Air

Di tengah kesulitan ini, Kamelus Lahut, warga lainnya, juga terpaksa menghemat air untuk kebutuhan sehari-hari. Ia dan keluarganya menggunakan air dari jerigen untuk memasak serta mencuci peralatan. Sejak gempa, mereka sangat bergantung pada bantuan air bersih yang datang secara tidak teratur.

“Sebelum gempa, kami harus antre satu hingga dua jam di mata air untuk mendapatkan air,” keluh Kamelus. Kini, dengan kerusakan yang parah pada mata air, air yang biasa mengalir jernih kini berubah keruh dan tak layak dikonsumsi.

1.506 Jiwa Terpengaruh dan Janji Pemerintah

Sebastianus Mbaik, Kepala Desa Golo Lanak, mencatat ada sebanyak 383 Kepala Keluarga (KK) atau 1.506 jiwa yang kini terancam krisis air. Kerusakan pada empat titik mata air utama desa telah membuat aliran air menjadi tidak layak pakai.

“Sebelum gempa, kami membeli air dari Desa Latung seharga Rp150 ribu untuk 1.100 liter, tetapi kualitasnya tidak ideal karena kandungan kapurnya yang tinggi,” ungkap Sebastianus. Dalam kondisi normal, satu profil air habis dalam enam hari untuk memenuhi kebutuhan harian rumah tangga sebesar 180 liter per hari.

Pascagempa, keadaan semakin buruk dengan akses menuju lembah tempat mata air yang menjadi sangat berbahaya. Dusun Gurung 1 dan Gurung 2 kini menjadi wilayah yang paling kritis terdampak krisis air. “Kendala akses jalan dan ancaman longsor semakin memperparah situasi,” tambahnya.

Bantuan dari Pihak Swasta dan Yayasan Kemanusiaan

Di tengah kebuntuan ini, bantuan mulai mengalir dari yayasan kemanusiaan seperti Plan International Indonesia dan Kitabisa, serta dari para perantau Golo Lanak yang kini berada di berbagai daerah. Bantuan tersebut mencakup uang tunai, sembako, dan pasokan air tangki.

Plan International Indonesia telah menyuplai sekitar 5.500 liter air, sementara para perantau mengirimkan hingga 27 profil air. Namun, jumlah ini masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat untuk memasak, minum, mencuci, dan sanitasi.

Harapan untuk Masa Depan

Dengan adanya keterbatasan armada dan volume air, pemerintah desa terpaksa menerapkan mekanisme distribusi skala prioritas untuk memastikan pasokan air sampai ke titik-titik yang paling membutuhkan. Bagi Sebastianus, perjuangan ini menjadi nyata demi menjaga ribuan warganya tetap bertahan hidup di tengah trauma pascabencana.

“Kami tidak membagikan air secara merata, karena pasokan air bersih yang kami salurkan masih kurang. Dusun ini juga tidak mendapatkan saluran air yang memadai,” ungkap Sebastianus.

Salah satu lembaga swasta yang bergerak cepat di Kecamatan Cibal Barat adalah Plan Indonesia. Mereka telah menyalurkan bantuan tanggap darurat di lima desa di wilayah tersebut, yaitu Lenda, Latung, Wae Codi, Timbu, dan Golo Lanak.

Fredrika Rambu, Emergency Team Leader dari Plan Indonesia, menyatakan bahwa tim kemanusiaan memprioritaskan pendampingan kepada pengungsi di lokasi-lokasi komunal.

Berbeda dengan posko pengungsian terpusat yang lebih mudah dijangkau oleh bantuan pemerintah, pengungsian komunal yang terdiri dari dua hingga 90 kepala keluarga yang mendirikan tenda di halaman rumah sering kali menghadapi kesulitan dalam mendapatkan pasokan logistik.

Pasokan air bersih menjadi prioritas yang paling mendesak. Plan Indonesia menyediakan 22.000 liter air bersih setiap hari melalui 20 tandon yang masing-masing memiliki kapasitas 1.100 liter untuk wilayah Cibal Barat. Distribusi ini mengikuti standar kebutuhan minimal 15 liter per jiwa per hari, dengan fokus utama pada perlindungan anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Selain air, mereka juga menyalurkan paket kebersihan (hygiene kit), paket Manajemen Kebersihan Menstruasi, serta shelter kit yang berisi tikar, selimut, terpal, dan alat penerangan.

Penyediaan perlengkapan sanitasi seperti sabun, handuk, dan sarung menjadi sangat penting untuk mengurangi risiko penularan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta batuk pilek yang mulai mengancam pengungsi akibat lingkungan terbuka yang berdebu.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap orang yang berada di pengungsian dapat tetap sehat dan bersih, agar tidak mendatangkan penyakit atau gangguan lainnya. Saat ini, di beberapa tempat, ancaman ISPA mulai muncul karena kondisi di luar tenda yang berdebu,” ujar Frederika saat ditemui Tirto di Desa Golo Lanak, Rabu (19/8/2026) malam.

Bantuan Air Plan Internasional

Plan Internasional Indonesia berpose bersama usai menyalurkan bantuan air di Desa Golo Lanak, Cibal Barat, Manggarai, NTT. Tirto/Fransiskus Adryanto Pratama

Proses distribusi di lapangan menghadapi berbagai tantangan. Akses jalan yang rusak, jembatan yang hampir putus, dan terbatasnya armada tangki air dari vendor sering mengakibatkan keterlambatan.

Namun, Frederika menegaskan komitmen Plan Indonesia untuk terus mendistribusikan air bersih serta merencanakan pemulihan sarana air permanen dalam jangka panjang. Bagi warga yang terdampak, keberlanjutan bantuan ini menjadi jaminan keselamatan dan perlindungan dasar di tengah ketidakpastian pascabencana.

“Kerusakan akses jalan juga memperlambat distribusi air. Masyarakat mengeluhkan keterlambatan dalam pasokan air. Kami memiliki vendor tangki air yang cukup terbatas untuk mendukung distribusi ini,” tutup Frederika.

Baca juga artikel terkait GEMPA NTT atau tulisan lainnya dari Fransiskus Adryanto Pratama

tirto.id – News Plus
Reporter: Fransiskus Adryanto Pratama
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Bayu Septianto

Berita Utama

Pilihan Editor

FAQ

Apa penyebab utama krisis air bersih di Desa Golo Lanak?

Krisis air bersih di Desa Golo Lanak disebabkan oleh gempa bumi yang merusak sumber mata air dan infrastruktur yang ada.

Berapa banyak warga yang terdampak krisis air di Golo Lanak?

Sebanyak 1.506 jiwa atau 383 Kepala Keluarga (KK) terdampak krisis air bersih.

Apa upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi krisis ini?

Pemerintah berjanji untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat terdampak gempa.

Siapa saja yang memberikan bantuan kepada warga Golo Lanak?

Bantuan datang dari yayasan kemanusiaan, seperti Plan International Indonesia dan Kitabisa, serta dari perantau Golo Lanak.

Apa yang diharapkan warga Golo Lanak dari pemerintah?

Warga berharap pemerintah dapat menyediakan armada kendaraan tangki air untuk menyuplai kebutuhan air bersih secara rutin.

Berita Terkait

Gempa Magnitudo 5,7 Guncang NTT, Dampak Terasa di Beberapa Kabupaten
Viral! Tiga Pria Israel Diusir dari Gym di Bali Karena Perilaku Kasar
Berita: Contoh Mukadimah Pidato Maulid Nabi Muhammad SAW untuk Acara Islami
Berita Terkini: Contoh Mukadimah Pidato Maulid Nabi Muhammad SAW yang Inspiratif
Tim SAR Gabungan Intensifkan Evakuasi Pasca Gempa NTT
Peringatan Maulid Nabi: Momen Refleksi dan Penguatan Akhlak Umat Islam
12 Peristiwa Menakjubkan Menjelang Kelahiran Nabi Muhammad SAW yang Perlu Diketahui
Mantan Dirut PGN Hendi Prio Santoso Dijatuhi Hukuman Penjara Empat Tahun atas Kasus Korupsi
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Berita Terbaru

Headline

AS Gandakan Program Buyback Obligasi, Purbaya: Indonesia Jadi Contoh

Headline

Fitur Unggulan Omoda O4: Mobil Listrik AI Terjangkau dengan Jarak Tempuh Jauh

Headline

Purbaya Yudhi Sadewa: Dana Rp44 Miliar untuk Bencana NTT Sudah Ditransfer Sejak Awal Agustus

Headline

Demon Hunter Ajukan Gugatan Terhadap Netflix Terkait Film Kpop Demon Hunters

Headline

Indonesia Coffee Expo 2026: Pameran Kopi Terbesar di Jakarta Akan Datang

Headline

Alwi Farhan Melaju ke Perempat Final Kejuaraan Dunia BWF 2026, Harapan Indonesia Masih Terjaga

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:22 WIB

AS Gandakan Program Buyback Obligasi, Purbaya: Indonesia Jadi Contoh

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:22 WIB

Fitur Unggulan Omoda O4: Mobil Listrik AI Terjangkau dengan Jarak Tempuh Jauh

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:21 WIB

Purbaya Yudhi Sadewa: Dana Rp44 Miliar untuk Bencana NTT Sudah Ditransfer Sejak Awal Agustus

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:21 WIB

Demon Hunter Ajukan Gugatan Terhadap Netflix Terkait Film Kpop Demon Hunters

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:21 WIB

Indonesia Coffee Expo 2026: Pameran Kopi Terbesar di Jakarta Akan Datang

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:20 WIB

Tragedi Kecelakaan di Jalan Ness: Mobil Tergelincir Masuk Jurang, Satu Tewas

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:20 WIB

Cuaca Panas Ekstrem Mengancam Kualitas Obat dan Vaksin: Pentingnya Rantai Dingin

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:20 WIB

Korea Utara Luncurkan 10 Rudal Balistik Jarak Pendek, Tindakan Provokatif di Tengah Ketegangan Global

Berita Terbaru

Headline

AS Gandakan Program Buyback Obligasi, Purbaya: Indonesia Jadi Contoh

Jumat, 21 Agu 2026 - 03:22 WIB

Headline

Fitur Unggulan Omoda O4: Mobil Listrik AI Terjangkau dengan Jarak Tempuh Jauh

Jumat, 21 Agu 2026 - 03:22 WIB

Headline

Purbaya Yudhi Sadewa: Dana Rp44 Miliar untuk Bencana NTT Sudah Ditransfer Sejak Awal Agustus

Jumat, 21 Agu 2026 - 03:21 WIB

Headline

Demon Hunter Ajukan Gugatan Terhadap Netflix Terkait Film Kpop Demon Hunters

Jumat, 21 Agu 2026 - 03:21 WIB

Headline

Indonesia Coffee Expo 2026: Pameran Kopi Terbesar di Jakarta Akan Datang

Jumat, 21 Agu 2026 - 03:21 WIB