BERITAKARAWANG.ID – Gempa bumi berkekuatan 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026, telah menimbulkan dampak yang sangat serius, terutama krisis air bersih di Desa Golo Lanak, Cibal Barat, Manggarai. Keadaan ini menjadi semakin memprihatinkan karena warga harus berjuang keras untuk mendapatkan kebutuhan dasar mereka.
Efridus Jerahi, salah satu penduduk desa, mengungkapkan betapa sulitnya hidup tanpa akses air yang memadai. Sebelum terjadinya gempa, desa ini sudah mengalami krisis air, di mana warga harus menempuh jarak sekitar lima kilometer menuju Desa Latung untuk mendapatkan air dari mata air yang melimpah.
Kendala Perjalanan untuk Mendapatkan Air
“Sumber air di Desa Golo Lanak tidak ada, jadi kami harus mengambil air dari desa lain yang jaraknya cukup jauh,” ungkap Efridus saat ditemui. Perjalanan menuju sumber air tersebut bukanlah hal yang mudah, karena jalan yang rusak dan tanjakan yang terjal menguras waktu dan tenaga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan adanya gempa, banyak warga yang kini trauma untuk mendekati area mata air. Di posko pengungsian, kebutuhan air mencapai 100 liter per hari hanya untuk memasak dan mencuci piring, belum termasuk kebutuhan mandi dan sanitasi. Jika mereka ingin mandi, sebagian warga harus merogoh kocek pribadi untuk mendapatkan air bersih.
Bantuan Minim dan Ketergantungan pada Dana Pribadi
Bantuan dari pemerintah yang minim memaksa warga untuk mengandalkan dana pribadi. Satu tandon air berkapasitas besar dihargai sekitar Rp150 ribu, dan kualitas air tersebut belum sepenuhnya memenuhi standar, seringkali meninggalkan kerak putih di dasar periuk setelah dimasak.
“Ada kalanya air yang kami masak meninggalkan kerak, itu tanda kualitas airnya kurang baik,” kata Efridus. Dalam situasi darurat ini, warga terpaksa mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk untuk urusan buang air di malam hari jika stok air di toilet habis.
Kelompok Rentan Terancam
Krisis air ini menjadi sangat mendesak terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak. Kehadiran bantuan dari lembaga kemanusiaan, seperti pasokan air kemasan dan pengiriman tandon air, menjadi harapan yang sangat berarti bagi warga.
Tanpa rencana jangka panjang dari pemerintah, warga Golo Lanak terancam terus menerus menguras tabungan pribadi demi mendapatkan air bersih. Efridus berharap pemerintah bisa menyediakan armada kendaraan tangki air untuk rutin menyuplai kebutuhan mereka, karena air bersih kini bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan penentu kelangsungan hidup.
Pentingnya Hemat Air
Di tengah kesulitan ini, Kamelus Lahut, warga lainnya, juga terpaksa menghemat air untuk kebutuhan sehari-hari. Ia dan keluarganya menggunakan air dari jerigen untuk memasak serta mencuci peralatan. Sejak gempa, mereka sangat bergantung pada bantuan air bersih yang datang secara tidak teratur.
“Sebelum gempa, kami harus antre satu hingga dua jam di mata air untuk mendapatkan air,” keluh Kamelus. Kini, dengan kerusakan yang parah pada mata air, air yang biasa mengalir jernih kini berubah keruh dan tak layak dikonsumsi.
1.506 Jiwa Terpengaruh dan Janji Pemerintah
Sebastianus Mbaik, Kepala Desa Golo Lanak, mencatat ada sebanyak 383 Kepala Keluarga (KK) atau 1.506 jiwa yang kini terancam krisis air. Kerusakan pada empat titik mata air utama desa telah membuat aliran air menjadi tidak layak pakai.
“Sebelum gempa, kami membeli air dari Desa Latung seharga Rp150 ribu untuk 1.100 liter, tetapi kualitasnya tidak ideal karena kandungan kapurnya yang tinggi,” ungkap Sebastianus. Dalam kondisi normal, satu profil air habis dalam enam hari untuk memenuhi kebutuhan harian rumah tangga sebesar 180 liter per hari.
Pascagempa, keadaan semakin buruk dengan akses menuju lembah tempat mata air yang menjadi sangat berbahaya. Dusun Gurung 1 dan Gurung 2 kini menjadi wilayah yang paling kritis terdampak krisis air. “Kendala akses jalan dan ancaman longsor semakin memperparah situasi,” tambahnya.
Bantuan dari Pihak Swasta dan Yayasan Kemanusiaan
Di tengah kebuntuan ini, bantuan mulai mengalir dari yayasan kemanusiaan seperti Plan International Indonesia dan Kitabisa, serta dari para perantau Golo Lanak yang kini berada di berbagai daerah. Bantuan tersebut mencakup uang tunai, sembako, dan pasokan air tangki.
Plan International Indonesia telah menyuplai sekitar 5.500 liter air, sementara para perantau mengirimkan hingga 27 profil air. Namun, jumlah ini masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat untuk memasak, minum, mencuci, dan sanitasi.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan adanya keterbatasan armada dan volume air, pemerintah desa terpaksa menerapkan mekanisme distribusi skala prioritas untuk memastikan pasokan air sampai ke titik-titik yang paling membutuhkan. Bagi Sebastianus, perjuangan ini menjadi nyata demi menjaga ribuan warganya tetap bertahan hidup di tengah trauma pascabencana.
“Kami tidak membagikan air secara merata, karena pasokan air bersih yang kami salurkan masih kurang. Dusun ini juga tidak mendapatkan saluran air yang memadai,” ungkap Sebastianus.
Salah satu lembaga swasta yang bergerak cepat di Kecamatan Cibal Barat adalah Plan Indonesia. Mereka telah menyalurkan bantuan tanggap darurat di lima desa di wilayah tersebut, yaitu Lenda, Latung, Wae Codi, Timbu, dan Golo Lanak.
Fredrika Rambu, Emergency Team Leader dari Plan Indonesia, menyatakan bahwa tim kemanusiaan memprioritaskan pendampingan kepada pengungsi di lokasi-lokasi komunal.
Berbeda dengan posko pengungsian terpusat yang lebih mudah dijangkau oleh bantuan pemerintah, pengungsian komunal yang terdiri dari dua hingga 90 kepala keluarga yang mendirikan tenda di halaman rumah sering kali menghadapi kesulitan dalam mendapatkan pasokan logistik.
Pasokan air bersih menjadi prioritas yang paling mendesak. Plan Indonesia menyediakan 22.000 liter air bersih setiap hari melalui 20 tandon yang masing-masing memiliki kapasitas 1.100 liter untuk wilayah Cibal Barat. Distribusi ini mengikuti standar kebutuhan minimal 15 liter per jiwa per hari, dengan fokus utama pada perlindungan anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Selain air, mereka juga menyalurkan paket kebersihan (hygiene kit), paket Manajemen Kebersihan Menstruasi, serta shelter kit yang berisi tikar, selimut, terpal, dan alat penerangan.
Penyediaan perlengkapan sanitasi seperti sabun, handuk, dan sarung menjadi sangat penting untuk mengurangi risiko penularan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta batuk pilek yang mulai mengancam pengungsi akibat lingkungan terbuka yang berdebu.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap orang yang berada di pengungsian dapat tetap sehat dan bersih, agar tidak mendatangkan penyakit atau gangguan lainnya. Saat ini, di beberapa tempat, ancaman ISPA mulai muncul karena kondisi di luar tenda yang berdebu,” ujar Frederika saat ditemui Tirto di Desa Golo Lanak, Rabu (19/8/2026) malam.

Proses distribusi di lapangan menghadapi berbagai tantangan. Akses jalan yang rusak, jembatan yang hampir putus, dan terbatasnya armada tangki air dari vendor sering mengakibatkan keterlambatan.
Namun, Frederika menegaskan komitmen Plan Indonesia untuk terus mendistribusikan air bersih serta merencanakan pemulihan sarana air permanen dalam jangka panjang. Bagi warga yang terdampak, keberlanjutan bantuan ini menjadi jaminan keselamatan dan perlindungan dasar di tengah ketidakpastian pascabencana.
“Kerusakan akses jalan juga memperlambat distribusi air. Masyarakat mengeluhkan keterlambatan dalam pasokan air. Kami memiliki vendor tangki air yang cukup terbatas untuk mendukung distribusi ini,” tutup Frederika.















