ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
BERITAKARAWANG.ID – Kementerian Pertanian (Kementan) mengumumkan pencapaian signifikan dalam sektor pertanian, yaitu Indonesia diperkirakan akan mencapai swasembada gula konsumsi pada tahun 2026. Hal ini lebih cepat dari target sebelumnya yang ditetapkan pada tahun 2027.
Pencapaian Swasembada Gula Konsumsi
Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Kementerian Pertanian, Abdul Roni Angkat, menyatakan bahwa pencapaian ini didukung oleh program bongkar ratoon plus, yang merupakan inisiatif untuk memperbarui tanaman tebu yang sudah tua dengan bibit baru.
“Tahun 2026 ini kita boleh berbangga bahwa kita bisa mencapai swasembada gula konsumsi,” ungkap Roni dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV pada Selasa (18/8) malam.
Percepatan Program Swasembada
Awalnya, pemerintah menargetkan swasembada gula konsumsi pada tahun 2027. Namun, dengan berbagai langkah yang diambil, pencapaian ini dapat dimajukan ke tahun 2026. Produksi gula konsumsi nasional diperkirakan mencapai 3,018 juta ton, melebihi kebutuhan konsumsi nasional yang sekitar 2,84 juta ton per tahun.
“Artinya kita surplus. Program bongkar ratoon yang telah dilaksanakan dari tahun 2025 hingga kini, sudah menunjukkan hasil,” jelas Roni.
Strategi Peningkatan Produksi Gula
Kementan berencana mengimplementasikan empat langkah strategis untuk meningkatkan produksi tebu. Pertama, penyediaan benih unggul yang saat ini sulit diakses oleh para petani.
“Kami menyediakan benih unggul yang dapat meningkatkan hasil panen. Dalam satu hektar, kami bisa memberikan bantuan benih tebu hingga 60 ribu mata,” tambah Roni.
Kedua, pemerintah memberikan subsidi pupuk khusus untuk tebu, yaitu pupuk ZA. Ketiga, petani tebu dapat mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Rp500 juta tanpa melalui BI Checking. Keempat, Kementan meminta asosiasi gula dan pengusaha gula untuk menjadi pembeli hasil produksi petani tebu.
Keberlanjutan Produksi Gula
Meskipun produksi gula konsumsi telah melampaui kebutuhan, keberlanjutan peningkatan produksi tetap bergantung pada ketersediaan bahan baku tebu. Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan, Dyan Garneta, menyatakan bahwa kapasitas industri gula nasional saat ini cukup untuk mengolah tambahan produksi tebu.
“Saat ini terdapat sekitar 59 pabrik gula yang aktif, dengan total kapasitas produksi mencapai sekitar 4 juta ton. Dengan perkiraan produksi gula konsumsi sekitar 3 juta ton pada tahun 2026, masih ada ruang kapasitas pengolahan sekitar 1 juta ton,” jelas Dyan.
Pentingnya Peremajaan Tanaman Tebu
Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara, Mahmudi, menekankan bahwa peningkatan produksi gula juga sangat bergantung pada perbaikan produktivitas tanaman tebu. Data 2024 menunjukkan bahwa sekitar 86% tanaman tebu rakyat perlu dilakukan peremajaan.
“Tanaman tebu mengalami penurunan produktivitas setelah melewati siklus sekitar empat tahun, sehingga perlu diganti dengan varietas baru yang lebih produktif,” tambahnya.
Menjaga Kualitas dan Kuantitas
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Gula Indonesia (AGI), Dwi Purnomo Putranto, mengingatkan bahwa pencapaian swasembada gula konsumsi tidak berarti Indonesia sepenuhnya terbebas dari ketergantungan impor. Masih ada 11 pabrik gula rafinasi yang mengandalkan bahan baku impor.
“Peningkatan produksi gula domestik harus diikuti dengan roadmap yang jelas untuk mengintegrasikan pasokan dari industri gula nasional dengan pabrik rafinasi yang sudah beroperasi,” pungkas Dwi.









