BERITAKARAWANG.ID – Keberhasilan Amerika Serikat (AS) dalam misi Apollo 11 yang membawa tiga astronot mendarat di Bulan pada 20 Juli 1969 menandai akhir dari perlombaan luar angkasa di era Perang Dingin. Meskipun Uni Soviet menjadi negara pertama yang mengirimkan kosmonot Yuri Gagarin ke luar angkasa pada 1961, pencapaian untuk menjejakkan kaki di Bulan tetap menjadi tonggak sejarah yang tak tertandingi. Kosmonot Aleksei Leonov, yang melakukan misi luar angkasa pertama dengan melayang bebas pada 1965, juga tidak mampu membawa Uni Soviet meraih kemenangan misi ke Bulan.
Leonov menegaskan bahwa Uni Soviet sudah merencanakan misi ke Bulan sejak awal 1960-an, namun program tersebut mengalami kemunduran besar setelah kematian mendadak Sergei Korolyov, kepala program antariksa Soviet, pada 1966. Program luar angkasa Uni Soviet semakin kehilangan arah, dan pada 1968, misi Apollo 8 dipimpin oleh Frank Borman yang mengorbit Bulan, menandai kekalahan awal bagi Uni Soviet.
Berbeda dengan AS yang terus maju dalam teknologi antariksa, Uni Soviet tertinggal dalam pengembangan pesawat ulang alik. AS berhasil meluncurkan pesawat ulang alik pertamanya, Columbia, pada 1981, sementara Uni Soviet baru bisa meluncurkan Buran pada 1988, yang hanya menjalani satu misi tanpa awak. Kekalahan ini terus berlanjut, dan hingga kini, program antariksa Rusia tidak menunjukkan tanda kemajuan signifikan. Misi Luna-25 pada 2023 yang merupakan misi pertama Rusia ke Bulan dalam 47 tahun mengalami kegagalan ketika wahana nirawak mereka jatuh ke permukaan Bulan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pergeseran Peta Persaingan Antariksa
Walaupun AS tetap menjadi pemain utama dalam eksplorasi luar angkasa, peta persaingan telah berubah. Kini, posisi Uni Soviet yang pernah dominan digantikan oleh Tiongkok, India, Jepang, dan Uni Eropa. Peran perusahaan swasta seperti SpaceX, Blue Origin, Arianespace, dan ispace juga semakin signifikan dalam misi eksplorasi ruang angkasa.
Bulan kembali menjadi fokus utama, khususnya bagian kutub selatannya yang kini menjadi sorotan para ilmuwan dan negara-negara yang berambisi mengeksplorasi. Apa yang membuat kawasan ini begitu menarik? Jawabannya adalah keberadaan air, lebih tepatnya es air yang terperangkap di bagian kutub Bulan.
Keberadaan Air di Bulan
Kondisi di Bulan sangat berbeda dengan Bumi. Sumbu rotasi Bulan hampir datar, hanya 1,5 derajat, sehingga ada kawah di kutub yang tidak pernah terkena sinar matahari selama miliaran tahun. NASA menyebut daerah ini sebagai permanently shadowed regions, atau wilayah yang selalu berada dalam bayangan, dengan suhu bisa turun hingga -203 derajat Celsius.
Di tempat-tempat inilah air dalam bentuk es bisa terperangkap. Kombinasi kegelapan abadi dan suhu ekstrem membuat air tidak menguap, menjadikannya target utama dalam misi ke Bulan. Dugaan tentang keberadaan air di Bulan sudah muncul sejak tahun 1960-an, namun baru pada 1998, misi Lunar Prospector menemukan indikasi air di kutub selatan.
Pada tahun 2009, NASA melakukan eksperimen dengan menabrakkan roket kosong ke kawah di kutub selatan Bulan untuk meneliti material yang terlempar, dan menemukan bukti definitif bahwa air memang ada.
Air di Bulan sangat berharga. Air bisa diolah untuk diminum, dipecah menjadi oksigen untuk bernapas, atau diubah menjadi bahan bakar roket. Mengangkut air dari Bumi ke Bulan memerlukan biaya yang sangat tinggi, mencapai 1 juta dolar AS per kilogram. Dengan adanya sumber air di Bulan, biaya eksplorasi bisa jauh lebih efisien.
Potensi Energi dan Tantangan di Kutub Selatan
Selain air, kutub selatan Bulan menawarkan potensi lain yang menarik. Di beberapa kawasan, sinar matahari dapat diterima hingga 200 hari berturut-turut, menjadikannya lokasi ideal untuk pemasangan panel surya. Selain itu, di dekat kutub terdapat South Pole-Aitken Basin, kawah terbesar di Bulan yang bisa memberikan wawasan baru tentang sejarah dan komposisi Bulan.
Namun, tantangan besar juga mengintai. Topografi di kutub selatan jauh lebih kasar dibandingkan di ekuator, dengan banyak kawah dan lereng curam yang menyulitkan navigasi. Ditambah lagi, debu Bulan yang tajam dan mudah menempel bisa merusak peralatan dan pakaian antariksa, seperti yang pernah dikeluhkan oleh astronot Apollo 17.
Siapa yang Terdepan dalam Eksplorasi Bulan?
Hingga saat ini, India adalah negara yang berhasil mendaratkan wahana di dekat kutub selatan melalui misi Chandrayaan-3 pada Agustus 2023. Mereka berencana melanjutkan eksplorasi dengan misi Chandrayaan-4 dan Chandrayaan-5, yang akan mengambil sampel langsung dan menjelajahi lebih jauh.
Sementara itu, AS menyiapkan misi Artemis IV, yang merupakan kelanjutan dari misi Artemis II yang baru-baru ini mengorbit Bulan. Rencananya, misi ini akan melibatkan astronot yang mendarat di dekat South Pole-Aitken Basin.
Tiongkok memiliki rencana ambisius untuk mendaratkan manusia di Bulan pada tahun 2030 dan membangun permukiman permanen pada 2040. Misi robotik Tiongkok juga berjalan sukses, dengan Chang’e 4 berhasil mendarat di sisi jauh Bulan pada 2019 dan Chang’e 5 membawa pulang sampel pada 2020.
Rusia, meskipun mengalami kemunduran dalam program antariksa mereka, masih memiliki potensi teknologi yang dapat berkolaborasi dengan Tiongkok dalam pengembangan pangkalan di Bulan.
Misi Masa Depan dan Peluang Kerja Sama
Keberhasilan misi ke Bulan di masa depan akan bergantung pada kemampuan untuk mengatasi tantangan teknis dan logistik yang ada. Air dan energi akan menjadi kunci dalam mendukung keberlangsungan misi berawak dan pengembangan pangkalan di Bulan. Selain itu, kerja sama internasional dapat menjadi strategi yang efektif untuk membagi biaya dan risiko dalam eksplorasi luar angkasa.
Dengan semua perkembangan ini, perlombaan untuk mengeksplorasi Bulan dan memanfaatkan sumber daya yang ada semakin intens. Negara dan perusahaan swasta berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan, dan kutub selatan Bulan menjadi pusat perhatian yang menjanjikan untuk masa depan eksplorasi antariksa.
Namun, di luar berbagai persoalan teknis yang ada, terdapat satu isu mendasar yang belum terjawab. Yaitu, siapa sebenarnya yang memiliki hak atas sumber daya yang ditemukan di Bulan? Perjanjian tahun 1967 menegaskan bahwa ruang angkasa, termasuk Bulan, tidak dapat diklaim oleh negara mana pun. Meskipun demikian, perjanjian tersebut tidak secara jelas melarang kegiatan ekstraksi sumber daya dari Bulan.
Amerika Serikat menafsirkan hal ini dengan cara sebagai berikut: Memang tidak ada negara yang diperbolehkan mengklaim wilayah tertentu di Bulan. Namun, hasil dari ekstraksi akan secara otomatis menjadi hak milik negara atau pihak yang melakukan ekstraksi tersebut. Tafsiran ini kemudian dituangkan dalam Artemis Accords, sebuah perjanjian yang telah ditandatangani oleh sekitar tujuh puluh negara sebagai kerangka kerja sama eksplorasi Bulan yang dipimpin oleh AS.
Tiongkok dan Rusia sama sekali tidak terlibat dalam perjanjian tersebut. Sebagai alternatif, keduanya mengusulkan kerangka tandingan yang dikenal sebagai International Lunar Research Station, yang hingga saat ini telah melibatkan belasan negara lain, termasuk Azerbaijan, Belarusia, Mesir, Nikaragua, Serbia, Pakistan, Afrika Selatan, Thailand, Venezuela, Kazakhstan, dan Senegal. Perpecahan semacam ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan sejumlah pengamat, karena berarti dunia akan menghadapi dua rezim aturan yang berbeda, masing-masing mengklaim legitimasi atas kawasan kutub selatan yang sama.
Perpecahan antara dua kubu ini menegaskan satu hal dengan jelas. Kutub selatan Bulan, berkat sejarah dan berbagai sumber daya yang dimilikinya, telah menjadi arena baru bagi persaingan geopolitik abad ke-21. Taruhannya kini bukan hanya siapa yang mampu mendarat di Bulan, tetapi siapa yang dapat mengambil sesuatu dari Bulan dan menjadikannya bernilai.
- Selain Neil Armstrong, Hanya Miliarder & Seniman yang Bisa ke Bulan
- Stanley Kubrick Dituduh Merekayasa Pendaratan Apollo di Bulan















