BERITAKARAWANG.ID – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa realisasi pemanfaatan dana dalam skema Just Energy Transition Partnership (JETP) di Indonesia masih tergolong rendah. Dari total komitmen sebesar 21,4 miliar dolar Amerika Serikat (AS), Indonesia baru memanfaatkan sekitar 3,93 miliar dolar AS, atau sekitar 18,3 persen.
Perkembangan Dana JETP yang Lambat
Dalam konferensi pers yang diadakan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, pada Kamis (20/8/2026), Airlangga menjelaskan bahwa program JETP, yang diinisiasi saat Indonesia menjadi tuan rumah G20, memiliki alokasi dana yang cukup besar. Namun, progres pemanfaatannya terbilang lambat. “Hingga saat ini, baru sekitar 4 miliar dolar AS yang telah dimanfaatkan,” ujarnya.
Rapat Lanjutan dengan Jerman
Untuk meningkatkan serapan pembiayaan JETP, Indonesia berencana mengadakan pertemuan lanjutan dengan Jerman. Pertemuan ini akan fokus pada pembahasan kerja sama dalam proyek-proyek energi hijau yang dapat ditingkatkan. Airlangga menekankan pentingnya kolaborasi dalam pengembangan proyek energi terbarukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tantangan dalam Ekosistem Pembiayaan
Airlangga juga menjelaskan bahwa lambatnya realisasi pemanfaatan dana JETP dipengaruhi oleh ekosistem pembiayaan, khususnya terkait perjanjian pembelian tenaga listrik (Power Purchase Agreement/PPA) dan berbagai aspek lainnya. Untuk mendapatkan akses ke pembiayaan, termasuk dari bank Jerman seperti Kreditanstalt für Wiederaufbau (KfW), yang fokus pada pendanaan proyek infrastruktur hijau dan energi terbarukan, Indonesia perlu mempercepat langkahnya.
Pengalaman Kerja Sama dengan KfW
“Kami memiliki pengalaman kerja sama yang baik dengan KfW, yang biasanya dapat menyediakan pembiayaan bagi sektor swasta dalam pengadaan barang modal,” tambahnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan, ada peluang untuk mempercepat realisasi pemanfaatan dana JETP.
Dukungan dari Jerman
Dukungan untuk mempercepat realisasi pemanfaatan dana JETP datang dari Menteri Federal untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman, Reem Alabali Radovan. Ia menyatakan komitmen Jerman untuk mendukung Indonesia dan negara-negara lainnya dalam transisi menuju energi terbarukan. Radovan menekankan pentingnya menciptakan situasi yang saling menguntungkan bagi semua pihak.
Keuntungan bagi Indonesia dan Jerman
“Kami berharap bisa menciptakan hasil yang positif bagi iklim dan keuntungan bagi perusahaan-perusahaan di kedua negara,” ungkap Radovan. Ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara Indonesia dan Jerman dalam bidang energi terbarukan diharapkan dapat membawa dampak yang signifikan untuk kedua belah pihak dan lingkungan.
Kesimpulan
Keterlambatan dalam pemanfaatan dana JETP di Indonesia menjadi perhatian serius. Melalui rapat lanjutan dengan Jerman dan upaya kolaboratif lainnya, diharapkan pemanfaatan dana tersebut dapat meningkat, sehingga Indonesia dapat mempercepat transisi energi dan mencapai target keberlanjutan yang telah ditetapkan.
FAQ
Apa itu Just Energy Transition Partnership (JETP)?
Just Energy Transition Partnership (JETP) adalah skema kerja sama internasional yang bertujuan untuk mendukung transisi energi berkelanjutan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Mengapa pemanfaatan dana JETP Indonesia masih rendah?
Pemanfaatan dana JETP Indonesia masih rendah akibat tantangan dalam ekosistem pembiayaan, termasuk masalah perjanjian pembelian tenaga listrik dan lainnya.
Apa langkah selanjutnya yang akan diambil Indonesia terkait JETP?
Indonesia akan mengadakan rapat lanjutan dengan Jerman untuk membahas dan meningkatkan proyek-proyek energi hijau.
Siapa yang mendukung pengembangan energi terbarukan di Indonesia?
Dukungan untuk pengembangan energi terbarukan di Indonesia datang dari berbagai pihak, termasuk pemerintah Jerman melalui kemitraan strategis.
Apa harapan dari kerja sama Indonesia dan Jerman dalam bidang energi?
Kerja sama ini diharapkan dapat membawa hasil yang positif bagi lingkungan serta keuntungan bagi perusahaan-perusahaan di kedua negara.





