Perlombaan Eksplorasi Bulan: Siapa yang Unggul di Kutub Selatan?

- Penulis Berita

Selasa, 25 Agustus 2026 - 01:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BERITAKARAWANG.ID – Keberhasilan Amerika Serikat (AS) dalam misi Apollo 11 yang membawa tiga astronot mendarat di Bulan pada 20 Juli 1969 menandai akhir dari perlombaan luar angkasa di era Perang Dingin. Meskipun Uni Soviet menjadi negara pertama yang mengirimkan kosmonot Yuri Gagarin ke luar angkasa pada 1961, pencapaian untuk menjejakkan kaki di Bulan tetap menjadi tonggak sejarah yang tak tertandingi. Kosmonot Aleksei Leonov, yang melakukan misi luar angkasa pertama dengan melayang bebas pada 1965, juga tidak mampu membawa Uni Soviet meraih kemenangan misi ke Bulan.

Leonov menegaskan bahwa Uni Soviet sudah merencanakan misi ke Bulan sejak awal 1960-an, namun program tersebut mengalami kemunduran besar setelah kematian mendadak Sergei Korolyov, kepala program antariksa Soviet, pada 1966. Program luar angkasa Uni Soviet semakin kehilangan arah, dan pada 1968, misi Apollo 8 dipimpin oleh Frank Borman yang mengorbit Bulan, menandai kekalahan awal bagi Uni Soviet.

Berbeda dengan AS yang terus maju dalam teknologi antariksa, Uni Soviet tertinggal dalam pengembangan pesawat ulang alik. AS berhasil meluncurkan pesawat ulang alik pertamanya, Columbia, pada 1981, sementara Uni Soviet baru bisa meluncurkan Buran pada 1988, yang hanya menjalani satu misi tanpa awak. Kekalahan ini terus berlanjut, dan hingga kini, program antariksa Rusia tidak menunjukkan tanda kemajuan signifikan. Misi Luna-25 pada 2023 yang merupakan misi pertama Rusia ke Bulan dalam 47 tahun mengalami kegagalan ketika wahana nirawak mereka jatuh ke permukaan Bulan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pergeseran Peta Persaingan Antariksa

Walaupun AS tetap menjadi pemain utama dalam eksplorasi luar angkasa, peta persaingan telah berubah. Kini, posisi Uni Soviet yang pernah dominan digantikan oleh Tiongkok, India, Jepang, dan Uni Eropa. Peran perusahaan swasta seperti SpaceX, Blue Origin, Arianespace, dan ispace juga semakin signifikan dalam misi eksplorasi ruang angkasa.

Bulan kembali menjadi fokus utama, khususnya bagian kutub selatannya yang kini menjadi sorotan para ilmuwan dan negara-negara yang berambisi mengeksplorasi. Apa yang membuat kawasan ini begitu menarik? Jawabannya adalah keberadaan air, lebih tepatnya es air yang terperangkap di bagian kutub Bulan.

Keberadaan Air di Bulan

Kondisi di Bulan sangat berbeda dengan Bumi. Sumbu rotasi Bulan hampir datar, hanya 1,5 derajat, sehingga ada kawah di kutub yang tidak pernah terkena sinar matahari selama miliaran tahun. NASA menyebut daerah ini sebagai permanently shadowed regions, atau wilayah yang selalu berada dalam bayangan, dengan suhu bisa turun hingga -203 derajat Celsius.

Di tempat-tempat inilah air dalam bentuk es bisa terperangkap. Kombinasi kegelapan abadi dan suhu ekstrem membuat air tidak menguap, menjadikannya target utama dalam misi ke Bulan. Dugaan tentang keberadaan air di Bulan sudah muncul sejak tahun 1960-an, namun baru pada 1998, misi Lunar Prospector menemukan indikasi air di kutub selatan.

Pada tahun 2009, NASA melakukan eksperimen dengan menabrakkan roket kosong ke kawah di kutub selatan Bulan untuk meneliti material yang terlempar, dan menemukan bukti definitif bahwa air memang ada.

Air di Bulan sangat berharga. Air bisa diolah untuk diminum, dipecah menjadi oksigen untuk bernapas, atau diubah menjadi bahan bakar roket. Mengangkut air dari Bumi ke Bulan memerlukan biaya yang sangat tinggi, mencapai 1 juta dolar AS per kilogram. Dengan adanya sumber air di Bulan, biaya eksplorasi bisa jauh lebih efisien.

Potensi Energi dan Tantangan di Kutub Selatan

Selain air, kutub selatan Bulan menawarkan potensi lain yang menarik. Di beberapa kawasan, sinar matahari dapat diterima hingga 200 hari berturut-turut, menjadikannya lokasi ideal untuk pemasangan panel surya. Selain itu, di dekat kutub terdapat South Pole-Aitken Basin, kawah terbesar di Bulan yang bisa memberikan wawasan baru tentang sejarah dan komposisi Bulan.

Namun, tantangan besar juga mengintai. Topografi di kutub selatan jauh lebih kasar dibandingkan di ekuator, dengan banyak kawah dan lereng curam yang menyulitkan navigasi. Ditambah lagi, debu Bulan yang tajam dan mudah menempel bisa merusak peralatan dan pakaian antariksa, seperti yang pernah dikeluhkan oleh astronot Apollo 17.

Siapa yang Terdepan dalam Eksplorasi Bulan?

Hingga saat ini, India adalah negara yang berhasil mendaratkan wahana di dekat kutub selatan melalui misi Chandrayaan-3 pada Agustus 2023. Mereka berencana melanjutkan eksplorasi dengan misi Chandrayaan-4 dan Chandrayaan-5, yang akan mengambil sampel langsung dan menjelajahi lebih jauh.

Sementara itu, AS menyiapkan misi Artemis IV, yang merupakan kelanjutan dari misi Artemis II yang baru-baru ini mengorbit Bulan. Rencananya, misi ini akan melibatkan astronot yang mendarat di dekat South Pole-Aitken Basin.

Tiongkok memiliki rencana ambisius untuk mendaratkan manusia di Bulan pada tahun 2030 dan membangun permukiman permanen pada 2040. Misi robotik Tiongkok juga berjalan sukses, dengan Chang’e 4 berhasil mendarat di sisi jauh Bulan pada 2019 dan Chang’e 5 membawa pulang sampel pada 2020.

Rusia, meskipun mengalami kemunduran dalam program antariksa mereka, masih memiliki potensi teknologi yang dapat berkolaborasi dengan Tiongkok dalam pengembangan pangkalan di Bulan.

Misi Masa Depan dan Peluang Kerja Sama

Keberhasilan misi ke Bulan di masa depan akan bergantung pada kemampuan untuk mengatasi tantangan teknis dan logistik yang ada. Air dan energi akan menjadi kunci dalam mendukung keberlangsungan misi berawak dan pengembangan pangkalan di Bulan. Selain itu, kerja sama internasional dapat menjadi strategi yang efektif untuk membagi biaya dan risiko dalam eksplorasi luar angkasa.

Dengan semua perkembangan ini, perlombaan untuk mengeksplorasi Bulan dan memanfaatkan sumber daya yang ada semakin intens. Negara dan perusahaan swasta berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan, dan kutub selatan Bulan menjadi pusat perhatian yang menjanjikan untuk masa depan eksplorasi antariksa.

Namun, di luar berbagai persoalan teknis yang ada, terdapat satu isu mendasar yang belum terjawab. Yaitu, siapa sebenarnya yang memiliki hak atas sumber daya yang ditemukan di Bulan? Perjanjian tahun 1967 menegaskan bahwa ruang angkasa, termasuk Bulan, tidak dapat diklaim oleh negara mana pun. Meskipun demikian, perjanjian tersebut tidak secara jelas melarang kegiatan ekstraksi sumber daya dari Bulan.

Amerika Serikat menafsirkan hal ini dengan cara sebagai berikut: Memang tidak ada negara yang diperbolehkan mengklaim wilayah tertentu di Bulan. Namun, hasil dari ekstraksi akan secara otomatis menjadi hak milik negara atau pihak yang melakukan ekstraksi tersebut. Tafsiran ini kemudian dituangkan dalam Artemis Accords, sebuah perjanjian yang telah ditandatangani oleh sekitar tujuh puluh negara sebagai kerangka kerja sama eksplorasi Bulan yang dipimpin oleh AS.

Tiongkok dan Rusia sama sekali tidak terlibat dalam perjanjian tersebut. Sebagai alternatif, keduanya mengusulkan kerangka tandingan yang dikenal sebagai International Lunar Research Station, yang hingga saat ini telah melibatkan belasan negara lain, termasuk Azerbaijan, Belarusia, Mesir, Nikaragua, Serbia, Pakistan, Afrika Selatan, Thailand, Venezuela, Kazakhstan, dan Senegal. Perpecahan semacam ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan sejumlah pengamat, karena berarti dunia akan menghadapi dua rezim aturan yang berbeda, masing-masing mengklaim legitimasi atas kawasan kutub selatan yang sama.

Perpecahan antara dua kubu ini menegaskan satu hal dengan jelas. Kutub selatan Bulan, berkat sejarah dan berbagai sumber daya yang dimilikinya, telah menjadi arena baru bagi persaingan geopolitik abad ke-21. Taruhannya kini bukan hanya siapa yang mampu mendarat di Bulan, tetapi siapa yang dapat mengambil sesuatu dari Bulan dan menjadikannya bernilai.

Baca juga:

  • Selain Neil Armstrong, Hanya Miliarder & Seniman yang Bisa ke Bulan
  • Stanley Kubrick Dituduh Merekayasa Pendaratan Apollo di Bulan
Baca juga artikel terkait ANTARIKSA atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

.id – Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi

Berita Utama

News Plus
1 jam lalu

Menakar Jalan Keluar saat Jaksa Dilarang Kasasi Vonis Bebas

Mozaik
1 jam lalu

Sejarah Peringatan Maulid Nabi di Makkah dan Madinah

News Plus
12 jam lalu

Belajar Kasus Kebakaran Sade: Mitigasi Kampung Adat Masih Nol

Periksa Fakta
15 jam lalu

Tidak Benar, Tautan Pendaftaran Bantuan Subsidi Tahun 2026

Byte
17 jam lalu

Sinyal WiFi pun Ternyata Bisa Jadi “Cepu”

Pilihan Editor

Politik
23 jam lalu

Konsolidasi Pengadaan Rp360 Triliun Tidak Hapus Risiko Korupsi

Sosial Budaya
Minggu, 23 Agt

Untung-Rugi Skema Potongan Gaji untuk Tunjangan Cuti Melahirkan

Ekonomi
21 jam lalu

BPS Jelaskan Arti dan Metode Pengelompokan Desil

Sosial Budaya
12 jam lalu

Belajar Kasus Kebakaran Sade: Mitigasi Kampung Adat Masih Nol

Hukum
16 jam lalu

Mendorong Penindakan Korporasi Besar di Balik Kasus Karhutla

FAQ

Apa yang membuat kutub selatan Bulan menarik untuk dieksplorasi?

Kutub selatan Bulan menarik karena terdapat air dalam bentuk es yang terperangkap dan potensi untuk pemasangan panel surya.

Siapa yang berhasil mendarat di kutub selatan Bulan?

India melalui misi Chandrayaan-3 pada Agustus 2023 adalah negara pertama yang berhasil mendarat di dekat kutub selatan Bulan.

Apa risiko yang dihadapi dalam misi ke kutub selatan Bulan?

Risiko termasuk topografi yang kasar, debu Bulan yang merusak, dan kondisi ekstrem di kawasan yang tidak menerima sinar matahari.

Apa rencana Tiongkok untuk eksplorasi Bulan?

Tiongkok berencana untuk mendaratkan manusia di Bulan pada tahun 2030 dan membangun permukiman permanen pada tahun 2040.

Mengapa air di Bulan sangat berharga?

Air di Bulan bisa digunakan untuk minum, sebagai oksigen, dan sebagai bahan bakar roket, sehingga mengurangi biaya pengiriman dari Bumi.

Berita Terkait

Usulan Dwikewarganegaraan untuk Talenta Unggul Indonesia: Peluang atau Ancaman?
Jadwal Pertandingan Badminton World Championship 2026: Siapa Saja Wakil Indonesia Hari Ini?
Mencicipi Makanan Hewan: Profesi Unik yang Menguntungkan
Tiga Gunung Berapi di Indonesia Meletus Secara Beruntun, Badan Geologi Beri Peringatan
Jadwal Pertandingan Sepak Bola Malam Ini: 19-20 Agustus 2026
Tragedi Pendakian di Gunung Bawakaraeng: 31 Pendaki Terpaksa Dievakuasi saat HUT RI ke-81
Segera Tayang: Urutan Nonton Film Insidious yang Wajib Diketahui Sebelum ‘Out of the Further’
Pembangunan Ibu Kota Nusantara: Alokasi Anggaran Rp5,3 Triliun untuk Infrastruktur Legislatif dan Yudikatif
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Berita Terbaru

Bisnis

PT Samudera Logistics Services

Headline

Usulan Dwikewarganegaraan untuk Talenta Unggul Indonesia: Peluang atau Ancaman?

Headline

Jadwal Pertandingan Badminton World Championship 2026: Siapa Saja Wakil Indonesia Hari Ini?

Headline

Mencicipi Makanan Hewan: Profesi Unik yang Menguntungkan

Headline

Tiga Gunung Berapi di Indonesia Meletus Secara Beruntun, Badan Geologi Beri Peringatan

Headline

Jadwal Pertandingan Sepak Bola Malam Ini: 19-20 Agustus 2026

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 01:43 WIB

Usulan Dwikewarganegaraan untuk Talenta Unggul Indonesia: Peluang atau Ancaman?

Selasa, 25 Agustus 2026 - 01:42 WIB

Jadwal Pertandingan Badminton World Championship 2026: Siapa Saja Wakil Indonesia Hari Ini?

Selasa, 25 Agustus 2026 - 01:41 WIB

Mencicipi Makanan Hewan: Profesi Unik yang Menguntungkan

Selasa, 25 Agustus 2026 - 01:41 WIB

Tiga Gunung Berapi di Indonesia Meletus Secara Beruntun, Badan Geologi Beri Peringatan

Selasa, 25 Agustus 2026 - 01:40 WIB

Tragedi Pendakian di Gunung Bawakaraeng: 31 Pendaki Terpaksa Dievakuasi saat HUT RI ke-81

Selasa, 25 Agustus 2026 - 01:40 WIB

Segera Tayang: Urutan Nonton Film Insidious yang Wajib Diketahui Sebelum ‘Out of the Further’

Selasa, 25 Agustus 2026 - 01:40 WIB

Pembangunan Ibu Kota Nusantara: Alokasi Anggaran Rp5,3 Triliun untuk Infrastruktur Legislatif dan Yudikatif

Selasa, 25 Agustus 2026 - 01:39 WIB

Kebakaran Hutan dan Lahan Meningkat Drastis di Indonesia: Dampak El Nino 2026

Berita Terbaru

Bisnis

PT Samudera Logistics Services

Selasa, 25 Agu 2026 - 02:13 WIB

Headline

Usulan Dwikewarganegaraan untuk Talenta Unggul Indonesia: Peluang atau Ancaman?

Selasa, 25 Agu 2026 - 01:43 WIB

Headline

Jadwal Pertandingan Badminton World Championship 2026: Siapa Saja Wakil Indonesia Hari Ini?

Selasa, 25 Agu 2026 - 01:42 WIB

Headline

Mencicipi Makanan Hewan: Profesi Unik yang Menguntungkan

Selasa, 25 Agu 2026 - 01:41 WIB

Headline

Tiga Gunung Berapi di Indonesia Meletus Secara Beruntun, Badan Geologi Beri Peringatan

Selasa, 25 Agu 2026 - 01:41 WIB

error: Content is protected !!