GOMISHAN: Sebuah Perayaan Kebudayaan dan Kerinduan di Iran Utara

- Penulis Berita

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BERITAKARAWANG.ID – GOMISHAN, sebuah kota kecil di Bandar Turkaman, Iran utara, menyimpan kekayaan budaya yang jarang dieksplorasi. Di tengah mayoritas penduduk yang menganut Ahlusunah, mereka hidup berdampingan dengan etnis Persia yang lebih dikenal sebagai penganut Syiah. Dalam sebuah acara maulid yang berlangsung setelah Isya, saya terjun ke dalam suasana yang sarat dengan emosi dan kerinduan yang mendalam.

Di lokasi tersebut, saya duduk di antara perempuan-perempuan Turkaman yang menggunakan bahasa yang tidak saya pahami. Hanya Atefeh, seorang wanita muda yang menguasai bahasa Persia, yang sesekali menerjemahkan isi acara. Ketika tavashih, puji-pujian untuk Nabi dalam bahasa Turkaman, dilantunkan, saya melihat mata Atefeh berkaca-kaca. Ternyata, ada kerinduan yang tak membutuhkan kata-kata, melainkan hanya perasaan.

Di akhir majelis, saya merasakan kehangatan saat berpelukan dengan Atefeh dan perempuan-perempuan lainnya meskipun kami berbeda bahasa. Ini adalah pengingat bahwa dua kebudayaan, dua bahasa, dapat menyatu dalam satu perasaan yang sama: kerinduan kepada Nabi Muhammad, sosok yang telah wafat 14 abad yang lalu namun tetap hidup dalam hati umatnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengalaman tersebut mengingatkan saya pada masa kecil saya, saat berdesakan di lantai surau mendengarkan selawat sambil menikmati hidangan yang disiapkan ibu-ibu. Kerinduan yang saya temukan di pelosok Iran itu bukanlah sesuatu yang asing, melainkan bagian dari pengalaman saya sendiri.

Namun, pertanyaan muncul: apa yang membuat kerinduan kepada sosok yang telah tiada selama 14 abad masih dapat merangkul kita meski ada sekat bahasa, suku, atau mazhab? Mungkin jawabannya terletak pada teladan cinta yang ditunjukkan Nabi Muhammad, yang tetap hidup meski telah lama wafat.

Salah satu sosok yang menggambarkan kerinduan ini adalah Jalaluddin Rumi, seorang penyair sufi yang tulisannya mengandung pesan cinta dan toleransi. Menurut Franklin D. Lewis dalam bukunya Rumi: Past and Present, East and West, spiritualitas Rumi sangat dipengaruhi oleh tradisi Islam yang ia pelajari, termasuk teladan Nabi Muhammad. Kerinduan spiritual Rumi adalah jalan menuju Nabi yang semakin dalam.

Rumi menegaskan dalam salah satu rubainya di Divan-e Syams, bahwa dia adalah hamba Al-Qur’an dan debu di ambang pintu Nabi. Pernyataan ini menunjukkan kesetiaan Rumi kepada Nabi Muhammad dan Al-Qur’an sebagai fondasi pemikirannya.

RUH SEMESTA: MELAMPAU SOSOK HISTORIS

Bagi Rumi, pembicaraan tentang Nabi Muhammad tidak hanya terfokus pada kehidupannya sebagai manusia yang menerima wahyu, tetapi juga pada hakikat yang lebih dalam, yakni cinta. Dalam kisah Mikraj, Rumi menggambarkan bahwa cinta Tuhan kepada Nabi Muhammad adalah alasan utama penciptaan semesta. Dalam pandangannya, penciptaan bukanlah peristiwa yang terpisah, melainkan merupakan bentuk cinta yang sempurna.

Rumi juga menulis bahwa cinta adalah kekuatan yang mampu mengubah segalanya. Bersama Nabi, cinta menemukan pasangannya yang sejati, dan melalui penciptaan, manusia dapat memahami betapa agungnya cinta. Rumi menyebut Nabi sebagai ‘sang Penguasa Laulak’, yang menjadi inti dari seluruh alam semesta.

Dalam konteks ini, Rumi menempatkan Nabi Muhammad sebagai sumber kehidupan bagi dunia. Ia menggambarkan dunia sebagai jasad yang tanpa ruh tidak akan hidup. Dengan demikian, kehadiran Nabi adalah energi yang terus menghidupkan eksistensi.

WAJAH HUMANIS SANG NABI

Dari cinta yang menciptakan semesta, Rumi juga menunjukkan sisi humanis Nabi Muhammad. Dalam pandangan Rumi, Nabi bukan hanya kekasih Tuhan, tetapi juga sosok yang dekat dengan penderitaan manusia. Rumi menyatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Ini adalah pesan yang sederhana namun mendalam.

Nabi Muhammad tidak hanya menerima wahyu dari langit, tetapi juga membawanya kembali kepada manusia. Humanisme Nabi terlihat dalam cara beliau memperlakukan mereka yang lebih lemah. Rumi menegaskan bahwa perbedaan posisi sosial tidak seharusnya mengurangi kemanusiaan seseorang.

Dengan kata lain, Rumi menunjukkan bahwa kasih sayang dan perhatian kepada sesama adalah hal yang esensial. Nabi memberikan ruang bagi manusia untuk berubah dan tidak menghakimi masa lalu seseorang. Dalam pandangan Rumi, kebebasan sejati datang dari pemahaman dan penerimaan.

MAULID SEBAGAI PERAYAAN KEMANUSIAAN

Maulid, dalam konteks ini, menjadi lebih dari sekadar perayaan kelahiran Nabi. Dalam berbagai bentuknya, baik di surau kampung atau di desa-desa Iran, perayaan ini mengingatkan kita untuk kembali memperlakukan sesama dengan baik. Cinta kepada Nabi seharusnya mendorong kita untuk lebih peduli kepada orang-orang yang membutuhkan, menjaga martabat mereka, dan memberikan dukungan.

Di Indonesia, kerinduan ini bisa diaktualisasikan dengan tindakan nyata, seperti membantu mereka yang terkena bencana. Misalnya, dengan gempa bumi yang baru terjadi di Flores dan sekitarnya, kita dapat hadir untuk saudara-saudara kita tanpa memandang agama atau latar belakang. Ini adalah cara menerjemahkan cinta yang kita ucapkan dalam selawat.

Bagi Rumi, mencintai Nabi bukan hanya sekadar menyebut namanya, tetapi juga tentang kepekaan kita terhadap penderitaan orang lain. Jika maulid hanya membuat kita pandai melafalkan selawat tanpa menumbuhkan kepedulian, maka ada yang perlu diperbaiki dalam cara kita mencintai Nabi.

FAQ

Apa itu GOMISHAN?

GOMISHAN adalah sebuah kota kecil di Bandar Turkaman, Iran utara, yang dikenal dengan penduduk suku Turkaman yang mayoritas menganut Ahlusunah.

Siapakah Jalaluddin Rumi?

Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair sufi yang terkenal dengan karya-karyanya yang mengekspresikan cinta dan toleransi, serta pengaruhnya terhadap spiritualitas Islam.

Apa makna perayaan Maulid?

Perayaan Maulid merupakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad yang mengingatkan kita untuk mencintai dan memperlakukan sesama dengan baik.

Bagaimana cara mencintai Nabi Muhammad menurut Rumi?

Menurut Rumi, mencintai Nabi Muhammad tidak hanya dengan mengaguminya, tetapi juga dengan berbuat baik kepada sesama dan memperhatikan penderitaan mereka.

Apa yang bisa dilakukan untuk membantu sesama di Indonesia?

Di Indonesia, kita bisa membantu sesama dengan tindakan nyata, seperti memberikan bantuan kepada mereka yang terkena bencana tanpa memandang latar belakang agama.

Berita Terkait

AS Gandakan Program Buyback Obligasi, Purbaya: Indonesia Jadi Contoh
Fitur Unggulan Omoda O4: Mobil Listrik AI Terjangkau dengan Jarak Tempuh Jauh
Purbaya Yudhi Sadewa: Dana Rp44 Miliar untuk Bencana NTT Sudah Ditransfer Sejak Awal Agustus
Demon Hunter Ajukan Gugatan Terhadap Netflix Terkait Film Kpop Demon Hunters
Indonesia Coffee Expo 2026: Pameran Kopi Terbesar di Jakarta Akan Datang
Alwi Farhan Melaju ke Perempat Final Kejuaraan Dunia BWF 2026, Harapan Indonesia Masih Terjaga
Tragedi Kecelakaan di Jalan Ness: Mobil Tergelincir Masuk Jurang, Satu Tewas
Cuaca Panas Ekstrem Mengancam Kualitas Obat dan Vaksin: Pentingnya Rantai Dingin
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:22 WIB

AS Gandakan Program Buyback Obligasi, Purbaya: Indonesia Jadi Contoh

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:22 WIB

Fitur Unggulan Omoda O4: Mobil Listrik AI Terjangkau dengan Jarak Tempuh Jauh

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:21 WIB

Purbaya Yudhi Sadewa: Dana Rp44 Miliar untuk Bencana NTT Sudah Ditransfer Sejak Awal Agustus

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:21 WIB

Demon Hunter Ajukan Gugatan Terhadap Netflix Terkait Film Kpop Demon Hunters

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:21 WIB

Indonesia Coffee Expo 2026: Pameran Kopi Terbesar di Jakarta Akan Datang

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:20 WIB

Tragedi Kecelakaan di Jalan Ness: Mobil Tergelincir Masuk Jurang, Satu Tewas

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:20 WIB

Cuaca Panas Ekstrem Mengancam Kualitas Obat dan Vaksin: Pentingnya Rantai Dingin

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:20 WIB

Korea Utara Luncurkan 10 Rudal Balistik Jarak Pendek, Tindakan Provokatif di Tengah Ketegangan Global

Berita Terbaru