Seminar Bahas Pengkhianatan G30S/PKI di SMK TI Muhammadiyah Cikampek: Memahami Bahaya Komunisme

- Penulis Berita

Selasa, 18 Agustus 2026 - 10:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

G30S PKI

i

G30S PKI

BERITAKARAWANG.ID – Dalam sebuah seminar yang digelar di Aula Ahmad Dahlan, SMK TI Muhammadiyah Cikampek, para siswa diajak untuk memahami tragedi kelam yang terjadi pada tahun 1965. Seminar bertema “Pengkhianatan G30S PKI: Komunis Dalam Perspektif Islam dan Pancasila” ini diselenggarakan pada tanggal 1 Oktober, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

Cuplikan Film yang Menggugah Kesadaran

Acara ini tidak hanya menghadirkan pemaparan dari narasumber, tetapi juga menyajikan cuplikan film “Pengkhianatan G30S/PKI” karya Arifin C. Noer. Cuplikan tersebut menampilkan adegan penyiksaan terhadap para jenderal, membuat para siswa terkejut dan merasakan emosi yang mendalam. Beberapa siswa terlihat menahan amarah, sementara yang lain tampak tertegun dengan kejadian yang digambarkan dalam film.

Pandangan Islam tentang Komunisme

Salah satu narasumber, Edi Supriadi, yang juga merupakan guru Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab, memberikan penjelasan mengenai pandangan Islam terhadap komunisme. Ia menegaskan bahwa ideologi komunis sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Menurutnya, dasar pemikiran Marxisme yang berfokus pada materialisme bertentangan dengan keyakinan akan keberadaan Tuhan dalam Islam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Konflik Kelas dalam Komunisme

Edi juga menjelaskan bahwa ajaran komunisme mengedepankan konflik kelas antara yang kaya dan yang miskin, yang dapat memicu perpecahan di masyarakat. Ia mengutip Al-Qur’an yang menganjurkan agar orang kaya membantu orang miskin, berbeda dengan pendekatan komunis yang cenderung mengarah ke tindakan anarkis.

Kepemilikan Pribadi dan Ketidakadilan

Lebih jauh, Edi mengkritik pandangan komunisme yang menghapuskan kepemilikan pribadi. Ia mencatat bahwa di negara-negara komunis seperti Korea Utara, justru elit penguasa yang menikmati kemewahan sementara masyarakat umum hidup dalam keterbatasan. “Masyarakat Korea Utara dilarang memiliki mobil, tetapi pejabat tinggi justru memiliki akses ke kendaraan itu,” ujarnya.

Reaksi Siswa terhadap Materi Seminar

Setelah mendengarkan pemaparan tersebut, para siswa merasa lebih memahami alasan di balik pelarangan ajaran komunis di Indonesia. Rian, seorang siswa kelas XII, menyatakan, “Kami anti-komunis karena ajarannya bertentangan dengan kodrat manusia dan nilai-nilai agama kami.” Sementara Ahmad Rifai, siswa lainnya, menambahkan bahwa ia kini lebih memahami sejarah pembantaian yang dilakukan oleh PKI terhadap para jenderal.

Inisiatif SMK TI Muhammadiyah Cikampek

Kepala SMK TI Muhammadiyah Cikampek, Dede Setiabudhi, menjelaskan bahwa seminar ini merupakan langkah baru yang diambil oleh pihak sekolah. “Tahun lalu kami hanya memutar film, tetapi tahun ini kami ingin memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada siswa tentang bahaya gerakan komunis,” ujarnya.

Kesimpulan

Seminar ini menjadi langkah penting dalam mendidik generasi muda tentang sejarah bangsa dan bahaya ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan ajaran Islam. Harapannya, siswa-siswa ini dapat menjadi pelopor dalam menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa Indonesia.

FAQ

Apa tema seminar yang diadakan di SMK TI Muhammadiyah Cikampek?

Tema seminar tersebut adalah ‘Pengkhianatan G30S PKI: Komunis Dalam Perspektif Islam dan Pancasila’.

Siapa narasumber dalam seminar tersebut?

Narasumber dalam seminar adalah Edi Supriadi, guru Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab.

Mengapa komunis dilarang di Indonesia?

Komunis dilarang karena ajarannya bertentangan dengan nilai-nilai agama dan Pancasila, serta dapat memicu konflik sosial.

Apa yang ditampilkan dalam seminar?

Seminar menampilkan cuplikan film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ dan pemaparan pandangan Islam tentang komunisme.

Apa tujuan dari seminar ini?

Tujuan seminar adalah meningkatkan pemahaman siswa tentang bahaya komunisme dan sejarah kelam 1965.

Berita Terkait

AS Gandakan Program Buyback Obligasi, Purbaya: Indonesia Jadi Contoh
Fitur Unggulan Omoda O4: Mobil Listrik AI Terjangkau dengan Jarak Tempuh Jauh
Purbaya Yudhi Sadewa: Dana Rp44 Miliar untuk Bencana NTT Sudah Ditransfer Sejak Awal Agustus
Demon Hunter Ajukan Gugatan Terhadap Netflix Terkait Film Kpop Demon Hunters
Indonesia Coffee Expo 2026: Pameran Kopi Terbesar di Jakarta Akan Datang
Alwi Farhan Melaju ke Perempat Final Kejuaraan Dunia BWF 2026, Harapan Indonesia Masih Terjaga
Tragedi Kecelakaan di Jalan Ness: Mobil Tergelincir Masuk Jurang, Satu Tewas
Cuaca Panas Ekstrem Mengancam Kualitas Obat dan Vaksin: Pentingnya Rantai Dingin
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 00:26 WIB

Fakta Menarik Tentang Wendy’s yang Mungkin Belum Anda Ketahui

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 00:26 WIB

Tips Ahli: Cara Menanak Nasi Sempurna Tanpa Kesalahan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 00:26 WIB

Haka Resto Tawarkan Paket Makan Malam Romantis untuk Pasangan di Jakarta

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 00:25 WIB

Justus Steakhouse Resmi Buka Outlet ke-12 di Alam Sutera, Sediakan Steak Berkualitas dengan Harga Terjangkau

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 00:25 WIB

Koki Italia Ungkap Kesalahan Umum dalam Membuat Spaghetti Bolognese

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 00:25 WIB

Berita Karawang: Cara Mudah Membuat Teh Boba Sehat di Rumah

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 00:24 WIB

Kreatifitas Menu Sehat: Kaki Naga Isi Bayam untuk Anak Susah Makan Sayur

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 00:24 WIB

Menu Sehat dan Lezat: Resep Bakso Sayur Umami untuk Keluarga

Berita Terbaru

Kuliner

Tips Ahli: Cara Menanak Nasi Sempurna Tanpa Kesalahan

Sabtu, 22 Agu 2026 - 00:26 WIB