Pentingnya Diagnosis Medis dalam Terapi Hormon Pertumbuhan Anak, Menurut Prof. Aman Pulungan

- Penulis Berita

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BERITAKARAWANG.ID – Dalam acara temu media daring di Jakarta pada Rabu (22/7), Prof. Aman Bhakti Pulungan, seorang dokter spesialis anak dengan subspesialisasi endokrinologi, menekankan pentingnya penerapan terapi hormon pertumbuhan yang berbasis pada diagnosis medis yang tepat. Ia menjelaskan bahwa proses ini tidak boleh dilakukan hanya untuk tujuan estetika seperti menambah tinggi badan tanpa adanya indikasi kesehatan yang jelas.

Prof. Aman menggarisbawahi bahwa terapi hormon pertumbuhan sebaiknya dimulai sedini mungkin, namun harus disesuaikan dengan penyebab spesifik dari gangguan pertumbuhan yang dialami anak. “Jika ada gangguan pertumbuhan yang memerlukan terapi, anak tersebut memiliki peluang lebih besar untuk mengoptimalkan potensinya,” ungkapnya.

Peluang Pertumbuhan hingga Usia Remaja

Menurut Prof. Aman, tinggi badan anak masih memiliki kesempatan untuk bertambah hingga usia 17–18 tahun, terutama bagi mereka yang mengalami keterlambatan pubertas. Ia memberikan contoh dari pemain sepak bola Lamine Yamal, yang terlihat masih tumbuh pada usia 17 tahun. Dalam hal ini, penting untuk melakukan diagnosis dini agar penanganan dapat dilakukan dengan tepat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk anak-anak yang telah terdiagnosis mengalami gangguan pertumbuhan sejak balita, terapi hormon bisa diberikan berdasarkan indikasi medis. Prof. Aman, yang memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun dalam menangani pasien yang menjalani terapi hormon, menegaskan bahwa diagnosis yang tepat adalah kunci keberhasilan terapi.

Fokus pada Penyebab Spesifik

Lebih lanjut, Prof. Aman menjelaskan bahwa tidak semua anak dengan tinggi badan di bawah rata-rata membutuhkan terapi hormon pertumbuhan. Penanganan medis harus berfokus pada masalah mendasar yang dihadapi anak. Beberapa kondisi yang dapat menjadi penyebab antara lain:

  • Gangguan Hormon Tiroid: Terapi hormon tiroid dapat diberikan untuk menangani masalah ini.
  • Kelainan Tulang: Anak mungkin memerlukan terapi untuk memperkuat struktur tulang mereka.
  • Keterlambatan Pubertas: Terapi hormon reproduksi dapat dilakukan sesuai indikasi medis.

Prof. Aman juga meluruskan pandangan umum yang sering mengaitkan tinggi badan yang rendah dengan kekurangan gizi. Padahal, kondisi ini bisa disebabkan oleh masalah hormon atau kondisi medis lainnya yang tidak terkait dengan asupan gizi.

Risiko Pemberian Nutrisi Berlebihan

Prof. Aman mengingatkan para orang tua untuk tidak memberikan makanan berkalori dan berprotein tinggi secara berlebihan dengan harapan anak bisa tumbuh lebih tinggi. Ia menjelaskan bahwa pola makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh justru dapat berdampak negatif.

Konsumsi kalori dan protein yang berlebihan tanpa pengawasan medis bisa menyebabkan kelebihan berat badan hingga obesitas. Hal ini, menurutnya, akan menimbulkan berbagai masalah kesehatan baru bagi anak di masa depan, yang harus diwaspadai oleh para orang tua.

FAQ

Apa yang dimaksud dengan terapi hormon pertumbuhan?

Terapi hormon pertumbuhan adalah pengobatan yang dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan anak yang mengalami gangguan pertumbuhan.

Kapan waktu yang tepat untuk memulai terapi hormon pertumbuhan?

Terapi hormon pertumbuhan sebaiknya dimulai sedini mungkin setelah diagnosis medis yang tepat.

Apa saja penyebab gangguan pertumbuhan pada anak?

Beberapa penyebab gangguan pertumbuhan antara lain gangguan hormon tiroid, kelainan tulang, dan keterlambatan pubertas.

Apakah semua anak pendek memerlukan terapi hormon?

Tidak semua anak dengan tinggi badan di bawah rata-rata membutuhkan terapi hormon; penanganan harus sesuai dengan penyebab spesifik.

Apa risiko dari memberikan nutrisi berlebihan pada anak?

Memberikan nutrisi berlebihan bisa menyebabkan kelebihan berat badan hingga obesitas, yang dapat memicu masalah kesehatan di kemudian hari.

Berita Terkait

AS Gandakan Program Buyback Obligasi, Purbaya: Indonesia Jadi Contoh
Fitur Unggulan Omoda O4: Mobil Listrik AI Terjangkau dengan Jarak Tempuh Jauh
Purbaya Yudhi Sadewa: Dana Rp44 Miliar untuk Bencana NTT Sudah Ditransfer Sejak Awal Agustus
Demon Hunter Ajukan Gugatan Terhadap Netflix Terkait Film Kpop Demon Hunters
Indonesia Coffee Expo 2026: Pameran Kopi Terbesar di Jakarta Akan Datang
Alwi Farhan Melaju ke Perempat Final Kejuaraan Dunia BWF 2026, Harapan Indonesia Masih Terjaga
Tragedi Kecelakaan di Jalan Ness: Mobil Tergelincir Masuk Jurang, Satu Tewas
Cuaca Panas Ekstrem Mengancam Kualitas Obat dan Vaksin: Pentingnya Rantai Dingin
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:22 WIB

AS Gandakan Program Buyback Obligasi, Purbaya: Indonesia Jadi Contoh

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:22 WIB

Fitur Unggulan Omoda O4: Mobil Listrik AI Terjangkau dengan Jarak Tempuh Jauh

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:21 WIB

Purbaya Yudhi Sadewa: Dana Rp44 Miliar untuk Bencana NTT Sudah Ditransfer Sejak Awal Agustus

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:21 WIB

Demon Hunter Ajukan Gugatan Terhadap Netflix Terkait Film Kpop Demon Hunters

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:21 WIB

Indonesia Coffee Expo 2026: Pameran Kopi Terbesar di Jakarta Akan Datang

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:20 WIB

Tragedi Kecelakaan di Jalan Ness: Mobil Tergelincir Masuk Jurang, Satu Tewas

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:20 WIB

Cuaca Panas Ekstrem Mengancam Kualitas Obat dan Vaksin: Pentingnya Rantai Dingin

Jumat, 21 Agustus 2026 - 03:20 WIB

Korea Utara Luncurkan 10 Rudal Balistik Jarak Pendek, Tindakan Provokatif di Tengah Ketegangan Global

Berita Terbaru